Sunday, 30 September 2012

ditulis dengan huruf Lampung kuno,

Minggu, 12 Agustus 2012 | 10:10:30 WIB Dibaca : 38 Menggali Akar Cerita Rakyat Menggali Akar Cerita Rakyat KORAN JAKARTA/FRANS EKODHANTO Dia menjadi mulut pertama yang menyampaikan cerita sejarah, cerita rakyat yang diolah dengan masa kini Kitab itu ternyata ada dan bukan isapan jempol belaka. Nenek moyangnya tak sepuritan yang ia kira. Tak ada ajaran kebatinan yang murni dan suci bersih di dunia kuno. Semua berawal dan berakhir dengan percampuran keyakinan dan gagasan, sinkritisme yang terbuka dan terang-terangan. Demikianlah beberapa carik kalimat yang terdapat dalam penggalan cerpen, Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air, karya Muhammad Harya Ramdhoni. Judul cerita ini sekaligus menjadi judul kumpulan cerpennya yang diluncurkan 27 Juli silam di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki. Dalam buku Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air ini terdapat sebelas judul cerpen yang mnceritakan sebuah hikayat masa lampau tentang sebuah kampung. Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air menceritakan perjuangan seorang anak muda yang mencari tahu tentang asal muasal keturunannya serta sepak terjang moyangnya dalam menyebarkan suatu ajaran kebajikan dan kebaikan. Sampai akhirnya, anak muda itu benar-benar dipertemukan dengan moyangnya yang beda zaman. Pertemuan mereka diawali dari sebuah pencobaan pembunuhan yang dilakukan oleh keturunan lain dalam usaha merampas salinan kitab yang sedang diteliti oleh anak muda tersebut. Perjalanan anak muda tersebut dimulai dari adanya sebuah kitab kuno. Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air mengandung lima unsur kunci yang dapat diringkas dalam sebuah kalimat: "Kepasrahan kepada Allah Semata." Kalimat tersebut terdapat pada kitab yang ditulis dengan huruf Lampung kuno, juga terlihat mantra-mantra percampuran ayat-ayat Al Quran dan ajaran Sekala Brak lama. Kitab purba tersebut ditulis di atas kulit kayu. Ia begitu terpelihara di sana. Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air disimpan dalam ruang berpendingin yang menjamin pemeliharaan atas dirinya agar kitab yang telah rapuh dimakan usia itu tak tersentuh tangan-tangan manusia. Kitab aslinya masih seperti 900 tahun yang lalu, mencandra bau kulit kayu yang begitu purba dan tak lazim. Dalam acara peluncuran buku itu, hadir Binhat Nurohmat (penyair dan esais) sebagai pengantar diskusi dan Muhammad Harya Ramdhoni (Doni). Dalam diskusi pengantarnya, Binhad menyampaikan bahwa Doni melakukan pemugaran, karena tangan-tangan sejarawan lokal belum menyentuh budaya dan cerita yang ada di masyarakat Lampung. Kisah Penting "Saya kira, karya-karya Doni ini penting dalam konteks Lampung. Ini berbeda dengan penulis-penulis lainnya, penulis yang banyak mengangkat sejarah dan budaya suatu daerah, baik Lampung maupun daerah lainnya, kemudian dituangkan kembali dalam bentuk karya sastra, seperti cerpen, novel ataupun puisi. Dengan kata lain, sebelum melakukan penulisan cerpen tersebut, Doni terlebih dahulu mencari tahu, menyelidiki, berperan sebagai sejarawan, namun bukan sejarawan untuk kemudian dia olah dan tulis kembali menjadi karya cerpen. Sebuah cerita rakyat yang diolah dengan masa kini," kata Binhad. Menurut Binhad, penulisan cerpen ini menggunakan metode yang sangat berbeda dari metode sebelumnya. Dia menjadi mulut pertama yang menyampaikan cerita sejarah, baik itu Sekalabra ataupun ceritra budaya dan legenda Lampung yang purba. Sebuah cerita tentang kerajaan yang amat besar di Lampung. Doni menjelaskan bahwa apa yang dia tulis dalam cerpen adalah hal-hal yang tidak bisa ditulis dalam novelnya, yaitu Perempuan-perempuan Harimau. "Awalnya, sebelum menjadi cerpen seperti yang sekarang ini, saya mendapatkan cerita dari kakek, sedang kakek mendapatkan cerita dari neneknya. Dengan kata lain, cerita ini merupakan cerita yang turun-temurun. Cerita yang menceritakan sebuah kerajaan. Cerita yang menceritakan sebuah budaya dan legenda yang pernah ada dalam peradaban masyarakat Lampung. "Cerpen-cerpen saya ini, sebelum diantologikan atau dibukukan, sudah pernah dimuat di beberapa media cetak, baik media cetak yang ada di Lampung maupun di luar Lampung, seperti di Jakarta dan media-media yang ada di Jawa," kata Doni. Dengan kata lain, cerpen ini seakan mengingatkan kembali bahwa setiap daerah atau pun wilayah Indonesia pasti memiliki cerita, legenda, budaya yang sangat penting dalam perkembangan peradaban suatu daerah tersebut, terutama dalam perkembangan budaya Indonesia. Namun sayang, tidak semua legenda dan budaya bisa disentuh dan diungkap para sejarawan dan pelaku seni serta kebudayaan sehingga dapat dikonsumsi dan diketahui oleh masyarakat luas, baik masyarakat yang ada dalam daerah tersebut maupun masyarakat tradisi, masyarakat akademisi, dan masyarakat pada umumnya yang berada di daerah lain. frans ekodhanto

No comments:

Post a Comment

Post a Comment