Sunday, 30 September 2012

Tujuh Pedoman Hidup Orang Lampung

Tujuh Pedoman Hidup Orang Lampung 1. Berani menghadapi tantangan: mak nyerai ki mak karai, mak nyedor ki mak bador. 2. Teguh pendirian: ratong banjir mak kisir, ratong barak mak kirak. 3. Tekun dalam meraih cita-cita: asal mak lesa tilah ya pegai, asal mak jera tilah ya kelai. 4. Memahami anggota masyarakat yang kehendaknya tidak sama: pak huma pak sapu, pak jelma pak semapu, sepuluh pandai sebelas ngulih-ulih, sepuluh tawai sebelas milih-pilih. 5. Hasil yang kita peroleh tergantung usaha yang kita lakukan: wat andah wat padah, repa ulah riya ulih. 6. Mengutamakan persatuan dan kekompakan: dang langkang dang nyapang, mari pekon mak ranggang, dang pungah dang lucah, mari pekon mak belah. 7. Arif dan bijaksana dalam memecahkan masalah: way ni dang robok, iwa ni dapok.

lampungisasi tanoh marga

New Jelajahi Kompasiana.com Bersama Teman-Teman Facebook Anda Home Humaniora Sosbud Artikel Abioyiq Jadikan Teman | Kirim Pesan Menulis menyalurkan redundansi agar tak menjadi keruntuhan diri 0inShare Mengapa Pendatang Tak ‘Terjajah’ Bahasa Lampung? OPINI | 10 January 2012 | 15:49 Dibaca: 784 Komentar: 5 Nihil 1326185132609886807 source: Google “Alaah udah kak, kalo nggak bisa ngomong lampung gak usah ngomong lampung!” begitu seorang teman wanita di tempat bekerja berkata ketika saya tak fasih berbicara dalam bahasa lampung. Lainnya mengatakan “Saya ini menghormati orang yang nggak bisa ngomong lampung, makanya kalo ada di antara temen ngobrol yang bukan orang lampung saya pake bahasa indonesia.” Sekilas memang ungkapan ini terkesan menebar rasa toleransi, tetapi di lain sisi cara seperti ini, terlebih di daerah sendiri justru akan meminggirkan penggunaan bahasa daerah. Mentalitas penggunaan bahasa daerah akan sangat mempegaruhi ketahanan bahasa tersebut eksis seiring masa. Kalau dari internal penggunanya tak bermental ‘penjajah’, maka sulit untuk melakukan ekspansi bahasa secara eksternal. Alih-alih menyebarkan bahasa kepada orang lain, justru bahasa daerah lain yang lebih sering kita dengar ketimbang bahasa daerah sendiri. Banyak dari orang asli suku Lampung yang malu menggunakan bahasanya sendiri kepada orang dari suku lain dan beberapa merasa lebih bangga atau merasa terpelajar jika bisa berbahasa Indonesia. Bagaimana dengan faktor eksternal? Kebijakan kurikulum Bahasa Inggris sejak jenjang paling bawah turut mempengaruhi minimnya perkembangan bahasa lain, demikian Nurachman Hanafi Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram) mengatakan http://www.berita8.com/news.php?cat=5&id=12132. Lalu selain pengaruh bahasa inggris, penggunaan secara sering bahasa dari daerah lain yang kemudian terserap akan menggeser bahasa daerah sendiri. Melanjutkan perkataan Nurachman bahwa ada 270 bahasa daerah di Indonesia yang dikagumi oleh peneliti asing dikarenakan bahasa-bahasa tersebut memiliki faktor pembeda yang jelas. Saya menilai bahasa Lampung termasuk dari beberapa bahasa aseli Sumatera yang bukan turunan bahasa melayu. Bahasa lainnya yang termasuk bahasa aseli adalah bahasa Batak. Fakta lain yang diungkap oleh Nurachman bahwa berdasarkan populasi pendukungnya, Bahasa Jawa menempati urutan pertama dengan penutur 60 juta jiwa, Bahasa Sunda kedua dengan penutur 24 juta jiwa, sedangkan bahasa daerah lainnya dalam daftar urutan berikutnya. Lalu bahasa lampung menempati urutan berapa saya belum mengetahuinya. Info BPS Lampung tahun 2000 membeberkan Lampung memiliki komposisi penduduk berdasarkan suku, Jawa 4.113.731 jiwa(61,88%); Lampung 792.312 jiwa (11,92%); Sunda, termasuk Banten 749.566 jiwa (11,27%); Semendo dan Palembang 36.292 jiwa (3,55%); Suku bangsa lain(Bengkulu, Batak, Bugis, Minang, dll) 754.989 jiwa(11,35%). Data diambil dari tahun 2000 sebab setelahnya BPS tak lagi mengelompokkan penduduk berdasarkan suku. Fakta ini memperlihatkan bahwa hanya sekitar 12% dari penduduk Lampung yang diasumsikan menjadi penutur bahasa Lampung. Multamia RMT Lauder dari Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, mengungkapkan dalam seminar Empowering Local Language Through ICT yang digelar Departemen Komunikasi dan Informatika, Senin (11/8) di Jakarta http://nasional.kompas.com/read/2008/08/11/21544654/169.bahasa.daerah.terancam.punah Di antara 729 bahasa daerah, 169 di antaranya terancam punah, karena berpenutur kurang dari 500 orang, beliau melanjutkan bahwa bahasa yang dapat dikategorikan sebagai bahasa yang berpenutur sedikit namun masih mempunyai potensi untuk hidup, sebenarnya adalah bahasa-bahasa yang penutur sekurang-kurangnya 1.000 orang. Baiklah bahasa Lampung masih jauh dari angka kritis penutur sebanyak 1000 orang, tetapi ketika generasi baru tak lagi bangga dan menggunakan bahasa daerahnya sendiri maka lambat tapi pasti bahasa tersebut akan mengalami kepunahan. Orang aseli Lampung bisa belajar dari suku jawa, betapa mereka memiliki mental menjajah dalam urusan berbahasa. Tak peduli tinggal di mana dan seringkali dalam banyak kesempatan mereka selalu menggunakan bahasanya. Di kebun, di sekolah, di lingkungan rumah, di tempat beribadah, di luar daerahnya, dan di mana-mana. Tak pernah malu dan sungkan menggunakan bahasa daerah sendiri. Jujur saja, kita akan lebih memilih menggunakan nama depan ‘mas’ kepada laki-laki yang baru kita kenal atau ‘mbak’ kepada perempuan yang baru kita kenal, meskipun memang secara jumlah suku jawa mendominasi populasi penduduk Indonesia tetapi mental menyebarkan bahasa itu yang membuat bahasa jawa menjadi pemuncak dalam hal jumlah penuturnya. Bisa juga belajar dari suku Palembang yang tinggal di Lampung. Mereka memiliki mentalitas seperti orang-orang dari suku jawa, hanya saja secara populasi tak sebanyak dari suku jawa. Jumlah yang sedikit tak menghalangi mereka untuk bangga menggunakan bahasanya sendiri yang malah banyak mempengaruhi penggunaan bahasa penduduk aseli. Usaha reservasi budaya melalui pendidikan dinilai kurang berpengaruh. Kurikulum Bahasa Lampung yang dibuat oleh pendidik di Lampung terbatas pada mengajarkan aksaranya saja, tak terdapat pengajaran percakapan dalam bahasa Lampung secara terukur. Kemudian kebijakan dari beberapa instansi baik swasta maupun pemerintah untuk menerapkan hari berbahasa Lampung tak juga efektif. Sering kali bahasa Lampung digunakan pada saat pembukaan sebuah pidato atau rapat saja, selebihnya tetap menggunakan bahasa Indonesia. Harus ada usaha yang lebih efektif untuk pertama, merubah mental malu menggunakan bahasa daerah sendiri dan lebih sering mengenalkannya kepada orang lain, hal ini perlu dibicarakan bersama tetua adat dan pemerhati bahasa Lampung kedua kurikulum dan pola pengajaran kepada siswa di Lampung harus dibuat secara lebih baik dan efektif untuk mengenalkan dan membiasakan bahasa Lampung, ketiga pemerintah membuat regulasi yang pro terhadap penyelamatan bahasa Lampung yang akan mempengaruhi instansi pemerintah dan swasta untuk lebih sering menerapkan bahasa Lampung. Bahkan bila perlu bisa meniru pola pembelajaran bahasa lainnya dengan mengadakan lomba berbahasa Lampung. Ini bukan permasalahan suku satu lebih baik dari lainnya, melainkan usaha untuk menyelamatkan kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Saya sendiri adalah penduduk Lampung perantau dari Jawa Barat dan tinggal bersama suku lampung peminggir atau pesisir serta menikah dengan orang Lampung. Saya mengalami kesulitan belajar berbahasa Lampung. Seringkali di berbagai kesempatan berbicara dengan banyak orang saya justru mendengar percakapan lebih banyak di lakukan dalam bahasa jawa, sunda dan palembang. Seorang teman yang aseli orang Lampung kini pandai berbahasa jawa, lainnya pamer ketika dengan terpatah-patah berbicara denga bahasa sunda dan lainnya lagi kental logat palembangnya. Di lain pihak tak saya temukan teman-teman dari suku lain yang bisa berbicara dalam bahasa Lampung. Mari minak muakhi ulun lampung (saudara orang lampung) kekayaan ini tak boleh hilang. saya bangga menjadi orang sunda tapi setengah darah saya juga orang lampung dan saya juga bangga terhadap budaya lampung. Secara nasional ini menjadi kebanggaan Indonesia pada akhirnya. Kik mak kham sapa lagi Kik mak tanno kapan lagi… Laporkan Tanggapi Siapa yang menilai tulisan ini? KOMENTAR BERDASARKAN : 10 January 2012 15:57:23 hehe… ini yang pernah saya pertanyakan jaman masih kecil dulu pak… jaman saya SD kelas lima atau enam gitu baru sedikit diajarkan tulisan lampung pas SMP baru deh sedikit bahasa lampung padahal pada masa itu di daerah lain bahasa daerah sudah menjadi pelajaran wajib di sekolahnya…. tp skarang saya sedikit bangga setidaknya budaya lampung tidak ragu diungkap lagi lewat ciri khas kotanya seperti yang pernah saya tulis: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/01/08/mau-mengenalkan-budaya-jadilah-kota-narsis/ tinggal “memanasi” generasi muda, entah darimana suku asalnya supaya mau menyemarakkan budaya dari tanah tempatnya berpijak kini… salam dari yang pernah wara wiri di bumi ruwa jurai… Laporkan Komentar [suka] 0 Balas Anjar Anastasia 10 January 2012 16:24:36 Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, bener mbak mdh2n yang aseli banget dr lampung jd ‘panas’ utk mempertahankan bahasa daerahnya sendiri Laporkan Komentar [suka] 0 Balas Abioyiq 30 March 2012 09:36:44 sebagai pendatang di lampung, saya jg pening bgmn mengajari bhs lampung pd anak saya yg msh kls 1 SD…pertama, beban anak sy sdh berat krn musti bljr bhs inggris…kedua, bhs lampung memiliki 2 dialek a dan o yg hrs dipelajari sekaligus (mgp sih tdk bertahap sj)…ketiga selain kosakata anak sy jg musti belajar aksara lampung (mgp ya tdk ditunda untuk materi SMP saja)…keempat buku ajar bhs lampung sangat tdk terstandar…ilustrasi kurang, glossary dan indeks pun tdk ada, dan kosakatanya pun susah (*beda skl dgn buku ajar bahasa inggris)…bukankah ini bisa menjadi bahan pemikiran?? Laporkan Komentar [suka] 0 Balas Retno Yuni Wicaksono 12 April 2012 13:55:35 Betul mbak Retno. mohon masukannya dari pihak akademisi agar kelengkapan instrumen pendidikan bahasa lampung bisa optimal. Orang2 lampung terdidik harus duduk bersama membahas ini kembali. dan usaha yang dilakukan harus terukur sampai adanya perubahan mental dan budaya dalam penggunaan bahasa lampung. Laporkan Komentar [suka] 0 Balas Abioyiq 26 April 2012 17:06:13 orang lampung harusnya belajar dengan orang palembang… di palembang suku2 yg tinggal mungkin yg paling plural di indonesia, di propinsi sumsel saja bahasanyanya banyak sekali seperti komering, ogan, sekayu, lahat, kayuagung dan masih banyak lagi. apalagi di tambah oleh pendatang dari luar provinsi seperti jawa, batak, minang dll… tetapi bahasa palembang selalu menjadi bahasa utama sehari2 dan sering di sebut bahasa persatuan, lalu bahasa daerah masing2 seperti bahasa komering dll… mau orang jawa, minang, batak, madura, bugis apalagi suku2 di sumsel, mereka semua harus bisa bahasa palembang jika ingin berinteraksi dengan warga di kota palembang, begitu juga di kota2 lain di sumsel. mereka jg harus bisa bahasa daerah dimana mereka tinggal… Laporkan Komentar [suka] 0 Balas Juki

Masyarakat Lampung

Senin, 04 Juni 2012 PostHeaderIcon Fakta Lampung Senin, Juni 04, 2012 | Diposkan oleh yuza Masyarakat Lampung Sistem kekeluargaan Patrilineal, tapi sangat menghormati wanita. Hal ini terlihat dengan digunakannya siger (sigokh) sebagai simbol orang Lampung, dimana kebanyakan suku lain menggunakan senjata sebagai simbolnya seperti Kujang, Mandau, Keris. Hampir 100% orang Lampung beragama Islam, Kecuali yang pindah keyakinan. Kebanyakan orang Lampung bermata sipit, berkulit putih, dan lebih mirip orang Cina. Meskipun tak semua orang Lampung berperawakan seperti itu. Kita akan kesulitan menemukan orang yang berbahasa Lampung di Lampung. Kecuali di tempat-tempat tertentu. Bahasa Lampung terbagi menjadi 2 dialek utama, yaitu A dan O, dan masing-masing dialek memiliki subdialek sendiri-sendiri. Ketika 2 orang Lampung berbeda marga saling bertemu, maka tak jarang mereka akan menggunakan bahasa Indonesia. Meskipun masing-masing dialek tidak jauh berbeda dan mereka akan paham walau menggunakan dialek masing2. Kata-kata “Kamu orang, Kita orang, Diorang” adalah kata bahasa pergaulan yang umum di Lampung untuk menunjukkan “Kalian, Kami, dan Mereka”. Padahal dalam bahasa Lampung, ketiga kata tersebut adalah “Kuti/kutei, Hikam/ikam, Tiyan” Kita akan kesulitan menemukan restoran/ makanan khas Lampung di Lampung sendiri. Lampung memiliki huruf sendiri yang disebut dengan Had Lampung Lebih banyak orang yang tahu menulis dengan menggunakan Aksara Lampung daripada berbahasa Lampung. Seruit adalah makanan khas orang Lampung yang merupakan simbol kebersamaan & kekeluargaan. Sama seperti kebanyakan orang Sumatera, Orang Lampung biasanya memiliki watak yang keras. Kebudayaan Lampung sangat terpengaruh oleh emas atau logam dengan warna-warna emas seperti kuningan. Mulai dari Siger dan aksesoris pengantin yang terbuat dari emas atau warna tiruan emas, Tapis (Kain khas Lampung) yang dari sulaman benang emas, perkakas sehari-hari yang terbuat dari emas atau kuningan seperti teko, gelas, piring, sisir dll. Pernah beberapa kali penulis mendatangi lokasi hajatan orang Lampung (pernikahan ,sunatan, pengangkatan adat), rasanya seperti berada di tempat yang mewah dan glamor karena nuansa yang serba emas. Di lihat dari dari motif tapis dan penggunaan emas dalam kehidupan sehari-hari, mungkin zaman dahulu pernah ada peradaban sangat tinggi di Lampung, namun tiba-tiba hilang tak berbekas pada suatu masa. Dari motif tapis, dapat kita lihat kapal besar yang mampu memuat gajah, awak kapal yang lengkap (Nahkoda, Juru mudi, Mualim, Tukang Agung, Kelasi, Pedagang, Budak, Kadet, dan Prajurit Kapal), orang menunggang gajah, motif naga seperti dalam legenda Cina, Piramid (Motif pucuk rebung, yang sangat mirip candi Prambanan. Sedangkan motif Gunung umpu menyerupai kuil orang Aztec di Amerika), dll. Wanita Lampung dengan Siger Emas yang menjadi pakaian sehari-hari Motif Kapal pada Kain Tapis Lampung Punden Berundak di Pugung Raharjo Lampung Motif Tapis Lampung Bersambung . Label: cuap-cuap, yuza info 1 komentar: Putra mengatakan... visit nyak wat blog http://www.lagulampung.com/ http://putrasung.blogspot.com/ 21 Juni 2012 15:39

keturunan haji sakti:kami terletak di kabupaten ogan komering ulu selatan- sumatera selatan.

aditya khenzo30 April 2010 14:16 salam perkenalan saja, saya keturunan haji sakti yaitu wilayah kekuasaan 3 pertalian saudara : 1. Sang Hyang Rakian Sakti, atau Pangeran Surya Negara. 2. Sulah Naga Berisang, atau Sahilillah 3. Puteri Berdarah Putih wilayah ini memiliki pertalian persaudaraan dengan masyarakat gunung pesagi/sekala berak kami terletak di kabupaten ogan komering ulu selatan- sumatera selatan. atau dua jam perjalanan dari danau ranau yaitu muaradua, dari muaradua ke hulu sungai yaitu sungai selabung..... Balas

lampungdikdaya:Hasyimkan dan Sejarah ‘Gamolan’

Hasyimkan dan Sejarah ‘Gamolan’ PDF Print E-mail User Rating: / 0 PoorBest Sunday, 15 January 2012 05:37 PERTAMA mengenal gamolan, Hasyimkan menilai bahwa alat musik ini sederhana dan mudah untuk diteliti. Namun, dugaannya itu salah, alat musik dari bambu ini ternyata merekam sejarah budaya Lampung yang panjang. ----------- Perkenalan Hasyim dengan gamolan terjadi saat dia masih menjadi guru seni di SMAN 9 Bandar Lampung. Saat itu ada pelatihan memainkan gamolan di Taman Budaya Lampung tahun 1998. Alat musik asal Lampung Barat ini kemudian menjadi inspirasinya dalam membuat tesis kuliahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM). ”Awalnya saya pikir gamolan sederhana dan mudah untuk diteliti. Tahunya rumit dan lebih susah,” kata Hasyim saat ditemui di Kampus Jurusan Seni Tari Unila di Jalan Panglima Polim, Selasa (10-1). Bagi dosen Jurusan Seni Tari FKIP Unila ini, musik etnis lebih susah dipelajari dibandingkan dengan musik modern. Belajar gitar dan drum bisa dipelajari di mana saja karena nadanya sama di seluruh dunia. Sedangkan musik etnis harus dipelajari di daerah tempat asal musik tersebut. Begitu juga dengan gamolan, dia harus datang ke rumah-rumah warga di Lampung Barat yang masih memainkan alat musik dari bambu ini. Ayah dua anak ini pun harus masuk ke desa-desa di sekitar Liwa. Bahkan dia harus naik Gunung Pesagi untuk mempelajari sejarah gamolan. Semak bulakar lebat pun dia seberangi untuk mencari jejak sejarah yang mengungkap kebenaran sejarah gamolan. Dari hasil penelitian dan studi literatur yang sudah dia lakukan, ada kesimpulan bahwa gamolan Lampung yang terbuat dari bambu merupakan awal dari alat musik gamelan perunggu yang ada saat ini. Bahwa sesuatu yang sederhana mengawali suatu yang rumit. Bahwa kebudayaan bambu merupakan awal dari kebudayaan perunggu. Hal ini didukung oleh teori H. Stewart yang mengungkapkan bahwa hal relatif sederhana lebih dahulu dari yang rumit. Gamolan mempunyai beberapa versi nada seperti do re mi so la si, do re mi so la si do, dan do re mi fa so la si do. Perbedaan nada ini disesuaikan dengan kebutuhan di daerah masing-masing. Penelitian yang dilakukan Hasyim kemudian mendapat angin segar setelah menemukan bahwa pernah ada penelitian tentang gamolan yang dilakukan Prof. Margaret J. Kartomi, guru besar dari Monash University. Penelitian yang dilakukan Hasyim untuk gamolan tergolong lengkap. Dia menggunakan pendepakatan etnomusikologi, antropologi, arkeologi, sosiologi, religi, sejarah, linguistik, dan supranatural. Sebelumnya penelitian gamolan hanya menggunakan kajian etnomusikologi berupa cara bermain musiknya saja. Menurut dia, pendekatan supranatural dimungkinkan untuk penelitian yang tidak ditemukan bukti peninggalan sejarah. ”Saya pun menggunakan sebuah teori yang menyebutkan bahwa bila pernyataan diungkap dua orang atau lebih dan tidak bertentangan dengan keilmuan yang ada, dapat diambil kebenarannya” kata dia. Menurut dia, gamolan merupakan perpaduan dari budaya India dan China yang masuk ke Sumatera. Gamolan berasal dari bahasa Sansakerta, yakni gamel yang berati memukul. Kemudian saat China masuk maka kata gamol diartikan sebagai berkumpul dan kemudian dikenallah gamolan. Budaya asli Sumatera saat itu hanya berupa bambu bulat yang berfungsi sebagai kentongan. Setelah China masuk dan membawa kebudayan bambu maka terjadilah akulturasi dan membuat gamolan seperti saat ini, perpaduan antara bambu bulat dan lempengan. Saat ini, Hasyimkan dan beberapa rekannya, Fajar Ramadhan dan Kemal Sjahdinata, sedang memperjuangkan untuk mendapatkan hak kekayaan intelektual (HAKI) atas gamolan. ”HAKI bukan atas nama perorangan, melainkan atas nama masyarakat Lampung yang diwakili oleh Pemprov Lampung,” kata dia. Menurutnya, gamolan bukan milik perorangan. Semua masyarakat Lampung berhak atas warisan budaya gamolan. Gamolan sudah beberapa kali diseminarkan di universitas di Australia, salah satunya tempat Prof. Margaret mengajar, Monash University. Hal ini merupakan sebuah upaya untuk mengenalkan alat musik Lampung kepada dunia. ”Saya pun sudah mengirimkan surat elektronik atau e-mail kepada Gamelan Institute di Amerika untuk mengenalkan bahwa ada gamolan dari bambu yang berbeda dengan gamelan yang ada selama ini di Jawa,” kata dia. Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini meyakini akan banyak peneliti yang datang ke Lampung untuk melihat dan meneliti tentang gamolan. Gamolan harus dilestarikan jangan sampai ketika peneliti datang ke Lampung, alat musik khas Sang Bumi Ruwa Jurai ini sudah tidak dimainkan lagi. Menurut dia, untuk mendapatkan pengakuan dari UNESCO, gamolan harus dilengkapi dengan penelitian ilmiah yang lengkap. Apakah benar asal katal gemel dari India dan ini harus dibuktikan dengan melakukan penelitian ke India dan China. Perlu ada dukungan pemerintah untuk mengembangkan penelitian ke sana. ”Kan tidak mungkin peneliti memiliki dana yang cukup untuk penelitian ke luar negeri,” kata dia. Bisa saja suatu saat gamolan ini diklaim punya Malaysia jika tidak cepat dipatenkan dan didaftarkan ke UNESCO. ”Dengan uang yang tidak terbatas Malaysia bisa melakukan apa saja,” kata dia. Bagi Hasyim, tesisnya tentang gamolan belum tuntas. Tesis hanya sekadar syarat formal saja untuk lulus S-2. Namun, masih perlu penelitian tambahan dan berkelanjutan. Saat ini pun dia masih terus ke Lampung Barat dan Way Kanan untuk meneruskan penelitiannya. Dia menganalogikan isi tesisnya hanya untuk menjelaskan bahwa istrinya cantik. Tidak menyebutkan bahwa istrinya cantik dibandingkan istri orang lain. ”Jika saya menyebut istri saya cantik saja tidak ada yang protes. Tapi jika lebih cantik dibandingkan istri yang lain, banyak yang protes,” kata dia. Begitu pun dengan gamolan, kata dia, bila alat musik ini disebut lebih dahulu dibandingkan dengan gamelan jawa dan menjadi awal mula keberadaaan gamelan, banyak yang akan menentang. Dia sudah memiliki banyak literatur dan penelitian yang menunjang bahwa keberadaan gamolan lebih dahulu ada. Adanya relief gamolan di Candi Borobudur menunjukkan bahwa alat musik ini diakui oleh pendiri Candi Sailendra. Dalam bahasa Lampung pun dikenal kata “sai”. “Tidak semua gambar bisa diukiri di Borobudur. Kalau bukan karena perintah Sailendra, tidak mungkin gamolan terukir di candi. Di dalam bahasa Lampung ada kata way yang juga dikenal dalam agama Hindu Waisak,” kata dia. Menurutnya, anekdot yang menyebut bahwa musik nusantara dimulai dari Jawa, bahwa musik Jawa lengkap, kemudian bergeser ke barat berkurang sedikit, sampai Jawa Barat berkurang, terus ke Lampung berkurang lagi, lalu sampai Palembang, Jambi, Sumut, hingga sampai Aceh tinggal tepuk-tepuk dada saja, tidak benar. (PADLI RAMDAN/M-1)

Kain tapis:jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung pribumi

Please read: a personal appeal from Wikipedia founder Jimmy Wales Baca sekarang Close Kain tapis Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Kain tapis Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Oleh sebab itu, munculnya kain tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenun, maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat. Daftar isi 1 Suku bangsa Lampung 2 Pengertian tapis Lampung 3 Sejarah kain tapis Lampung 4 Jenis tapis Lampung menurut asal pemakainya 4.1 Tapis Lampung dari Pesisir 4.2 Tapis lampung dari Pubian Telu Suku 4.3 Tapis Lampung dari Sungkai Way Kanan 4.4 Tapis Lampung dari Tulang Bawang Mego Pak 4.5 Tapis Lampung dari Abung Siwo Mego 5 Jenis Tapis Lampung menurut pemakai 6 Bahan dan peralatan tenun tapis 6.1 Bahan dasar 6.2 Peralatan tenun kain tapis 7 Pranala luar 8 Lihat pula Suku bangsa Lampung Masyarakat Lampung asli memiliki struktur adat yang tersendiri. Bentuk masyarakat hukum adat tersebut berbeda antara kelompok masyarakat satu dengan yang lainnya. Secara umum dapat dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu masyarakat adat Saibatin dan masyarakat adat Pepadun Suku bangsa Lampung yang beradat Saibatin (Pesisir) terdiri dari : Kepaksian Sekala Brak Keratuan Melinting Keratuan Balau Keratuan Darah Putih Keratuan Semaka Keratuan Komering Cikoneng Pak Pekon Suku bangsa Lampung yang beradat Pepadun (Pedalaman) dapat digolongkan menjadi : Abung Siwo Mego (Abung Sembilan Marga) Mego Pak Tulang Bawang (Tulang Bawang Empat Marga) Pubian Telu Suku (Pubian Tiga Suku) Buay Lima Way Kanan (Way Kanan Lima Kebuayan) Sungkay Bunga Mayang Berdasarkan pembagian penduduk yang serba mendua ini maka Lampung dikenal sebagai Propinsi Sang Bumi Ruwa Jurai yang dapat diartikan "Bumi Yang Dua Dalam Kesatuan." Di daerah Lampung dikenal berbagai peralatan dan perlengkapan adat yang melambangkan status seseorang yang ditandai dengan pemilikan sebuah kain adat yaitu Kain Tapis Lampung. Pengertian tapis Lampung Kain tapis untuk pria, berwarna merah-hitam Kain tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam (Lampung; "Cucuk"). Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak. Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sejarah kain tapis Lampung Kain tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Karena itu munculnya kain Tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat. Menurut Van der Hoop disebutkan bahwa orang Lampung telah menenun kain brokat yang disebut nampan (tampan) dan kain pelepai sejak abad ke-2 Sebelum Masehi. Motif kain ini ialah kait dan kunci (key and rhomboid shape), pohon hayat, dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan serta bunga melati. Dikenal juga tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh. Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain. Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh taradisi Neolitikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia. Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata juga memperkaya perkembangan kerajinan tapis. Walaupun unsur baru tersebut telah berpengaruh, unsur lama tetap dipertahankan. Adanya komunikasi dan lalu lintas antar kepulauan Indonesia sangat memungkinkan penduduknya mengembangkan suatu jaringan maritim. Dunia kemaritiman atau disebut dengan zaman bahari sudah mulai berkembang sejak zaman kerajaan Hindu Indonesia dan mencapai kejayaan pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan islam antara tahun 1500 - 1700 . Sejarah tapis juga didapat dari Muhammad Ridho. Menurut Muhammad Ridho,yang melakukan penelitian terhadap Sejarah Tapis Masa Pra-Sejarah, berpendapat bahwa: Sejarah Tapis Sejak Masa Pra-Sejarah Sejarah mencatat bahwa masyarakat Lampung telah mengenal tenun Pelepai dan Nampan sejak abad ke-2 SM. (menurut Van der Hoop = sejarawan asal Belanda). Sejarah juga mencatat bahwa Tapis Lampung telah disebutkan dalam prasasti Raja Balitung (Abad ke-9 M.) sebagai barang yang dihadiahkan. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa Tapis sejak jaman dahulu merupakan barang mahal, karena pada dasarnya barang yang dihadiahkan adalah barang yg memiliki nilai-nilai tertentu. Bersamaan pada abad tersebut kain songket telah berkembang di lingkungan Kerajaan Sriwijaya, dimana kain songket telah ada sejak jaman Kerajaan Malayu (Abad ke-5 M). Penggunaan benang emas dalam budaya tenun Indonesia merupakan hasil kontak dagang dengan bangsa China sebagai penemu benang emas sejak Masa Sebelum Masehi. Sejarah mencatat pula, bahwa Bangsa Lampung telah melakukan kontak dagang dengan Bangsa China sejak Abad ke-5 M, ketika Kerajaan P'o-Huang (dapat dieja "Bawang" yang berarti Rawa dalam Bahasa Lampung) mengirimkan utusannya ke Negeri China pada Tahun 449 M. dengan membawa Upeti dan 41 jenis barang dari P'o-Huang yang diperdagangkan ke China (kitab Liu Sung Shu, 420-479 M.). Bahkan berdasarkan temuan keramik China masa Dinasti Han (203-220 M), mengindikasikan bahwa perdagangan antara Bangsa Lampung Kuno dengan China telah berlangsung sejak awal Abad Ke-3 M. Penggunaan benang emas dan kapas dalam tradisi tenun Lampung merupakan kelanjutan dari teradisi menenun sejak jaman Perunggu atau Perundagian (antara 3000 - 1500 SM). Ini dapat dilihat dari ragam motif pada kain-kain tapis kuno, kain inuh dan kain bidak yang bergaya Neolitikum, seperti: pucuk rebung, meander, manusia, pohon hayat, sulur, binatang dll. Yang juga terdapat pada nekara dan bejana perunggu, serta pecahan-pecahan gerabah Neolitikum. Sebelum mengenal kapas dari bangsa China dan India, masyarakat Lampung seperti juga masyarakat purba lainnya di dunia telah memanfaatkan kulit kayu (kulit kayu tangkil), serat pisang, serat pandan, dll. untuk dipintal menjadi benang sebagai bahan dasar kain tenun. Untuk masyarakat Lampung, penggunaan benang emas, benang perak dan kaca merupakan kelanjutan dari tradisi prasejarah, dimana pada masa itu masyarakat Lampung purba menghiasi kain tenun mereka dengan menempelkan atau menyulam benda-benda yang dianggap berharga atau memilki kekuatan magis seperti manik-manik, kulit kerang, kepingan logam (perunggu), maupun sulaman benang / serat-serat berwarna terang, hal ini mungkin berkaitan dengan status sosial masyarakat pada masa itu, dimana semakin semarak ragam hias pakaian atau kain tenun tersebut, maka semakin tinggi pula status sosialnya. Sisa-sisa tradisi ini masih dapat kita temui dalam kain tapis kuno, kain inuh, kain bidak, maupun pada tradisi manik-manik Lampung seperti pada lakkai (wadah seserahan, terbuat dari anyaman bambu atau rotan) dan peleppai manik-manik maupun pada benda-benda peniggalan budaya lainnya. Setelah kontak dagang dengan Bangsa China dan India terjadi, maka mulailah mereka mengenal penggunaan kapas dan menghiasinya dengan barang-barang impor seperti benang emas, benang perak, benang sutera alam, dan kaca. Dan banyak mengalami perkembangan motif seiring dengan perubahan jaman sampai masuknya pengaruh Islam yang sangat besar, dan semakin menambah kekayaan ragam hias dan jenis dari kain tapis Lampung itu sendiri. Namun kini, dari dua ratusan motif dan jenis kain tapis yang dahulu pernah ada, saat ini tidak lebih dari tiga puluh motif dan jenis saja yang masih dikenal dan diproduksi, bahkan diantaranya kini terancam hilang dan nyaris punah. Hal ini dikarenakan rumitnya pengerjaan dan lamanya waktu proses pembuatan yang dibutuhkan untuk memproduksi satu jenis kain. Mengingat jenis kain ini tidak bisa diproduksi dengan mesin. Selain dari kurangnya kepedulian masyarakat pada keberadaan tapis-tapis kuno, juga akibat dari perburuan besar-besaran terhadap kain-kain langka tersebut oleh orang-orang asing. Catatan: 1. Umumnya kerajaan-kerajaan yang dicatat oleh bangsa China dalam kitab sejarahnya adalah kerajaan-kerajaan besar. 2. Kain peleppai disebut juga kain kapal karena motif utamanya berupa kapal arwah, yang berisikan arwah leluhur (kepercayaan jaman batu), namun baru pada jaman Islam kapal itu dianggap kapal atau bahtera Nabi Nuh, karena dalam Islam tidak mengenal istilah kapal arwah. Sumber: * ­ Balai Arkeologi Nasional. * ­ Museum Negeri Lampung "Ruwa Jurai". * ­ Sanggar Tapis Ninda. * ­ Sejarah Sumatera (William Marsden). * ­ Kemaharajaan Maritim Sriwijaya dan Perniagaan Dunia Abad ke III - VII (O.W. Wolters). * ­ http://www.rumahpesonakain.org/kain-nusantara/ * ­ http://oyossaroso.blogspot.com/2007/07/kain-tapis-warisan-nenek-moyang-yang.html Jenis tapis Lampung menurut asal pemakainya Beberapa jenis kain tapis yang umum digunakan masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin adalah : Tapis Lampung dari Pesisir Tapis Inuh Tapis Cucuk Andak Tapis Semaka Tapis Kuning Tapis Cukkil Tapis Jinggu Tapis lampung dari Pubian Telu Suku Tapis Jung Sarat Tapis Balak Tapis Laut Linau Tapis Raja Medal Tapis Pucuk Rebung Tapis Cucuk Handak Tapis Tuho Tapis Sasap Tapis Lawok Silung Tapis Lawok Handak Tapis Lampung dari Sungkai Way Kanan Tapis Jung Sarat Tapis Balak Tapis Pucuk Rebung Tapis Halom/Gabo Tapis Kaca Tapis Kuning Tapis Lawok Halom Tapis Tuha Tapis Raja Medal Tapis Lawok Silung Tapis Lampung dari Tulang Bawang Mego Pak Tapis Dewosano Tapis Limar Sekebar Tapis Ratu Tulang Bawang Tapis Bintang Perak Tapis Limar Tunggal Tapis Sasab Tapis Kilap Turki Tapis Jung Sarat Tapis Kaco Mato di Lem Tapis Kibang Tapis Cukkil Tapis Cucuk Sutero Tapis Lampung dari Abung Siwo Mego Tapis Rajo Tunggal Tapis Lawet Andak Tapis Lawet Silung Tapis Lawet Linau Tapis Jung Sarat Tapis Raja Medal Tapis Nyelem di Laut Timbul di Gunung Tapis Cucuk Andak Tapis Balak Tapis Pucuk Rebung Tapis Cucuk Semako Tapis Tuho Tapis Cucuk Agheng Tapis Gajah Mekhem Tapis Sasap Tapis Kuning Tapis Kaco Tapis Serdadu Baris Jenis Tapis Lampung menurut pemakai Tapis Jung Sarat Dipakai oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat. Dapat juga dipakai oleh kelompok isteri kerabat yang lebih tua yang menghadiri upacara mengambil gelar, pengantin serta muli cangget (gadis penari) pada upacara adat. Tapis Raja Tunggal Dipakai oleh isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara perkawinan adat, pengambilan gelar pangeran dan sutan. Di daerah Abung Lampung Utara dipakai oleh gadis-gadis dalam menghadiri upacara adat. Tapis Raja Medal Dipakai oleh kelompok isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara adat seperti : mengawinkan anak, pengambilan gelar pangeran dan sutan. Di daerah Abung Lampung Utara tapis ini digunakan oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat. Tapis Laut Andak Dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada acara adat cangget. Dipakai juga oleh Anak Benulung (isteri adik) sebagai pengiring pada upacara pengambilan gelar sutan serta dipakai juga oleh menantu perempuan pada acara pengambilan gelar sutan. Tapis Balak Dipakai oleh kelompok adik perempuan dan kelompok isteri anak seorang yang sedang mengambil gelar pangeran pada upacara pengambilan gelar atau pada upacara mengawinkan anak. Tapis ini dapat juga dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada upacara adat. Tapis Silung Dipakai oleh kelompok orang tua yang tergolong kerabat dekat pada upacara adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar, khitanan dan lain-lain. Dapat juga dipakai pada saat pengarakan pengantin. Tapis Laut Linau Dipakai oleh kerabat isteri yang tergolong kerabat jauh dalam menghadiri upacara adat. Dipakai juga oleh para gadis pengiring pengantin pada upacara turun mandi pengantin dan mengambil gelar pangeran serta dikenakan pula oleh gadis penari (muli cangget). Tapis Pucuk Rebung Tapis ini dipakai oleh kelompok ibu-ibu/para isteri untuk menghadiri upacara adat. Di daerah Menggala tapis ini disebut juga tapis balak, dipakai oleh wanita pada saat menghadiri upacara adat. Tapis Cucuk Andak Dipakai oleh kelompok isteri keluarga penyimbang (kepala adat/suku) yang sudah bergelar sutan dalam menghadiri upacara perkawinan, pengambilan gelar adat. Di daerah Lampung Utara tapis ini dipakai oleh pengantin wanita dalam upacara perkawinan adat. Di daerah Abung Lampung Utara tapis ini dipakai oleh ibu-ibu pengiring pengantin pada upacara adat perkawinan. Tapis Limar Sekebar Tapis ini dipakai oleh kelompok isteri dalam menghadiri pesta adat serta dipakai juga oleh gadis pengiring pengantin dalam upacara adat. Tapis Cucuk Pinggir Dipakai oleh kelompok isteri dalam menghadiri pesta adat dan dipakai juga oleh gadis pengiring pengantin pada upacara perkawinan adat. Tapis Tuho Tapis ini dipakai oleh seorang isteri yang suaminya sedang mengambil gelar sutan. Dipakai juga oleh kelompok orang tua (mepahao) yang sedang mengambil gelar sutan serta dipakai pula oleh isteri sutan dalam menghadiri upacara pengambilan gelar kerabatnya yang dekat. Tapis Agheng/Areng Dipakai oleh kelompok isteri yang sudah mendapat gelar sutan (suaminya) pada upacara pengarakan naik pepadun/pengambilan gelar dan dipakai pula oleh pengantin sebagai pakaian sehari-hari. Tapis Inuh Kain tapis ini umumnya dipakai pada saat menghadiri upacara-upacara adat. Tapis ini berasal dari daerah Krui, Lampung Barat. Tapis Dewosano Di daerah Menggala dan Kota Bumi, kain tapis ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat menghadiri upacara adat. Tapis Kaca Tapis ini dipakai oleh wanita-wanita dalam menghadiri upacara adat. Bisa juga dipakai oleh wanita pengiring pengantin pada upacara adat. Tapis ini di daerah Pardasuka Lampung Selatan dipakai oleh laki-laki pada saat upacara adat. Tapis Bintang Tapis Bintang ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat upacara adat. Tapis Bidak Cukkil Model kain Tapis ini dipakai oleh laki-laki pada saat menghadiri upacara-upacara adat. Tapis Bintang Perak Tapis ini dapat dipakai pada upacara-upacara adat dan berasal dari daerah Menggala, Lampung Utara. Bahan dan peralatan tenun tapis Bahan dasar Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas. Benang katun adalah benang yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan sistem sulam. Pada tahun 1950, para pengrajin tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun. Proses pengolahannya menggunakan sistem ikat, sedangkan penggunaan benang emas telah dikenal sejak lama. Bahan-bahan baku itu antara lain : Khambak/kapas digunakan untuk membuat benang. Kepompong ulat sutera untuk membuat benang sutera. Pantis/lilin sarang lebah untuk meregangkan benang. Akar serai wangi untuk pengawet benang. Daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur. Buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal untuk pewarna merah. Kulit kayu salam, kulit kayu rambutan untuk pewarna hitam. Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk pewarna coklat. Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru. Kunyit dan kapur sirih untuk pewarna kuning. Pada saat ini bahan-bahan tersebut di atas sudah jarang digunakan lagi, oleh karena pengganti bahan-bahan di atas tersebut sudah banyak diperdagangkan di pasaran. Peralatan tenun kain tapis Proses pembuatan tenun kain tapis menggunakn peralatan-peralatan sebagai berikut : Sesang yaitu alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. Mattakh yaitu alat untuk menenun kain tapis yang terdiri dari bagian alat-alat : Terikan (alat menggulung benang) Cacap (alat untuk meletakkan alat-alat mettakh) Belida (alat untuk merapatkan benang) Kusuran (alat untuk menyusun benang dan memisahkan benang) Apik (alat untuk menahan rentangan benang dan menggulung hasil tenunan) Guyun (alat untuk mengatur benang) Ijan atau Peneken (tunjangan kaki penenun) Sekeli (alat untuk tempat gulungan benang pakan, yaitu benang yang dimasukkan melintang) Terupong/Teropong (alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan) Amben (alat penahan punggung penenun) Tekang yaitu alat untuk merentangkan kain pada saat menyulam benang emas. Pranala luar - Melayu Online Lihat pula Suku Lampung Marga di Lampung Kategori: Lampung Budaya Indonesia Buat akun baru Masuk log Halaman Pembicaraan Baca Sunting Versi terdahulu Halaman Utama Perubahan terbaru Peristiwa terkini Halaman sembarang Komunitas Warung Kopi Portal komunitas Bantuan Wikipedia Cetak/ekspor Peralatan Bahasa lain English Français Halaman ini terakhir diubah pada 02.09, 20 September 2012. Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. Kebijakan privasi Tentang Wikipedia Penyangkalan Tampilan seluler Wikimedia Foundation Powered by MediaWiki

Telusur Asal-Usul 'ulun/hulun/Orang' Lampung

Telusur Asal-Usul 'Orang' Lampung (Sebuah Uraian Disadur dari Beberapa Sumber) TULISAN ini bermula dari kegiatan iseng semata yang akhirnya menjadi ketertarikan penulis untuk turut mengetahui sejarah/budaya Lampung. Tak ada tendensi untuk menjadi sejarawan/budayawan, hanya sumbangsih untuk menguatkan pepatah "Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu akan sejarah Bangsanya". Berdasar pada buku The History of Sumatra (dikutip dalam Lampost, "Asal-Usul Kata Lampung Menurut Sejarawan, 18-04-1994) karya The Secretary to the President and the Council of Port Marlborough (Bengkulu) William Marsdn F.R.S. tahun 1779, terungkap asal-usul penduduk asli Lampung. Dalam buku tersebut tertulis: "If you ask the Lampoon people of these part, where originally comme from they answere, from the hills, and point out an island place near the great lake whence, the oey, their forefather emigrated.... (Apabila tuan-tuan menanyakan kepada masyarakat Lampung tentang dari mana mereka berasal, mereka akan menjawab dari bukit dan akan menunjuk ke suatu tempat dekat danau yang besar....)," kata William . Dari tulisan ini bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud danau tersebut ialah Danau Ranau. Sedangkan bukit yang berada dekat danau bisa Bukit/Gunung Pesagi, Sebagaimana juga ditulis Zawawi Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung, tidal dipublikasi): Disebutkan dalam sajak dialek Komering/Minanga: Adat lembaga sai ti pakai sa - Buasal jak Lemasa Kapampang - di kukut Gunung Dempo - Sajaman rik Tanoh Pagaruyung - Pemerintah Bunda Kandung. Cakak di Gunung Pesagi - Rogoh di Sakala Berak - Sangun Kok Turun Temurun - Jak ninik Muyang Paija. Cambai Urai ti usung - Dilom adat Pusako, kira-kira berarti: Adat lembaga yang dipakai ini - berasal dari lemasa Kapampang (nangka bercabang) - di kaki Gunung Dempo - sezaman dengan tanah Pagaruyung - Pemerintah Bunda Kandung. - Naik di Gunung Pesagi - turun di Sakala Berak - Memang sudah turun temurun - dari nenek moyang dahulu. Sirih pinang dibawa - di dalam adat pusaka. Kalau tidak pandai tindih susun (tata tertib) - tanda tidak berbangsa. Menurut pendapat beliau: Belum dapat dipastikan pada tahun berapa, di kaki Gunung dempo telah lahir kerajaan bernama Lamasa Kapampang mempunyai budaya tinggi di kala itu, pemerintahannya telah teratur berdasar hukum adat untuk mengatur kehidupan rakyatnya. Tidak diketahui dengan pasti, apa penyebab rakyat Lamasa Kapampang meninggalkan daerah mereka, apa karena adanya bencana alam/desakan rakyat pendatang atau perebutan kekuasaan di kalangan mereka yang berkuasa sehingga timbul dua golongan yang masing-masing mempunyai pengikut. Untuk menghindari pertikaian, mereka sepakat meninggalkan daerah itu untuk mencari daerah baru. Sepihak mengungsi ke utara menyusur pantai barat sumatra dan pihak lain menuju selatan. Rombongan yang ke utara tiba di lembah Danau Toba, itulah yang menurunkan suku Batak dan yang keselatan sampai di lembah Danau Ranau yang melahirkan suku Lampung. Di dataran tinggi Gunung Pesagi mereka menjumpai daerah yang luas, ditumbuhi sebangsa tumbuh-tumbuhan bernama sakala. Dinamakanlah tempat itu Sakala Berak (berak = luas). Di tempat itulah pertama kali suku Lampung bermukim. Kami yang pindah dari Lamasa Kapampang menuju ke Sakala Berak ialah pengikut Radja di Lampung. Buwai Lampung beranak pinak di Sakala Berak, kami perlu hidup, alam sekitar Sakala Berak tidak mampu lagi memberi kehidupan kepada Buwai Lampung, kami mencari hidup, jalan kehidupan. Jalan paling mudah ditempuh ialah menyusuri sungai-sungai ke hilir. Hulu sungai di Lampung boleh dibilang berasal dari dataran tinggi Bukit Pesagi. Kelompok demi kelompok meninggalkan Sakala Berak menurun ke lembah mengikuti aliran sungai. Kelompok atau kaum membentuk buwai. Berangkatlah di antaranya Buwai Madang menyusuri sungai yang dikenal sekarang sebagai Sungai Komering, antara lain dipimpin Minak Ratu Betara. Buwai Talang Bawung (talang = tanah tinggi di lingkungi baruh/bawung = raja ikan di sungai) sungainya dinamakan Batanghari Tulang Bawang. Susul menyusul buwai-buwai itu turun dari Sakala Berak: Buwai Binawang menuju daerah Cukuh Balak sekarang/putih, Pertiwi dan Limau, Buwai Semenguk (ahli perdukunan) menyebar mengikuti buwai yang mereka senangi, Buwai Balau menempati daerah Balau sekarang. Buwai Umpu Basai di daerah Mesuji dan banyak buwai yang timbul kemudian setelah terjadi peluasan mencari daerah kehidupan, berpindah dari satu tempat ketempat lain. Perpindahan ini masih berlangsung sampai abad ke-19, terakhir yang dilakukan Buwai Pubian. Demikian uraian Zawawi Kamil. Sumber lain berpendapat (Baginda Sutan, Lampung Ragom, tahun 1997), asal keturunan yang menurunkan jurai asli Lampung, di antaranya Indo Gajah (Ratu dipuncak) menurunkan 7 beradik, 5 laki-laki dan 2 perempuan, yaitu Riya Begeduh, Pemuka Begeduh, Nunyai, Unyi, Bulan/Bolan, Subing, Nuban. Riya Begeduh, dan Pemuka Begeduh menurunkan Komering dan Way kanan. Sedangkan Nunyai, Unyi, Subing, dan Nuban menurunkan Abung (4 marga pokok). Bulan/Bolan menurunkan Tulang Bawang. Sungkai pindah dari Komering sejak tahun 1800-an yang disebut Lampung Bunga mayang karena asalnya ada di komering. Belunguh (Way Mincang) menurunkan 2 keturunan semua lelaki, yaitu Minak Pergok dan Minak Menyata. Dari 2 keturunan ini menurunkan Peminggir Teluk, Peminggir Semangka dan Peminggir Pemanggilan. Paklang (Way Pengubuan) juga memiliki dua anak semua lelaki, yaitu Tamba Pupus dan Menyerakat yang menurunkan 2 marga Pubian. Pandan menurunkan salah satu kebuwaian di Bengkulu. Sangkan (Sukaham) Tidak jelas di Sukaham, mungkin di Sukadana Ham atau tempat lain. Indogajah, Belunguh, Paklang, & Pandan serta Sangkan merupakan keturunan Umpu Serunting dari Sekala Berak, sedangkan Umpu Serunting anak Umpu Setungai di Rejang yang menikahi putri di Sekala Berak. Umpu Setungau merupakan keturunan Ruh/Kun Tunggal dari Pagaruyung. Dari dua uraian di atas terlihat kontras karena yang satu menyebutkan berasal dari Sekala Berak pindah dari masa Lamasa Kapampang, sedang pendapat kedua menyebut keturunan juga dari Sekala Berak, tetapi ada campuran yang dari Pagaruyung. Dan juga terlihat periodenya berjauhan, ada yang semasa Ratu Dipuncak dan masa penyebaran menyusur sungai (way) meninggalkan Sakala Berak. Melihat pendapat yang ada, dirasakan bahwa penelitian sejarah orang Lampung perlu dilakukan, sarana pembuktian terhadap pendapat yang ada maupun untuk mengetahui asal-muasal suku Lampung. Periodenya, mulai masuknya ke Sumatera, zaman Lemasa Kepampang, penyebaran suku sampai periode Paksi Pak, maupun keratuan yang pernah ada di Lampung sehingga kita kenal subsuku Lampung seperti sekarang, yaitu Komering, Peminggir Teluk/Semangka/Pemanggilan, Melinting/Meninting, Way Kanan, Sungkai, Pubian, Abung, dan Tulang bawang. Termasuk juga Ranau dan Lampung Cikoneng Penelitian itu harus didukung data-data autentik, tersurat berupa catatan/dokumen dan tertulis di kulit-kulit pohon mungkin banyak tersimpan seantero kampung tua yang ada di Lampung. Termasuk di daerah Ranau maupun Komering. Sumber : http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2007052002043927