Sunday, 21 October 2012

joni sepriyan::cikoneng pakpekon,enclave suku lampung di banten--Tari Lampung Kp Tegal - Desa Cikoneng, Anyer.MPG

Asal-Usul Lampung Cikoneng

Asal-Usul Lampung Cikoneng Thursday, January 21, 2010 Pada zaman Raja - Raja yang menimpin pada umumnya memiliki kekaromahan berupa kesaktian, hal tersebut menjadi salah satu faktor penunjang dalam memimpin di suatu kepemerintahan. Pada masa kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf di Kesultanan Bantenbeliau berupaya untuk dapat menundukan Kerajaan Galuh yang berpusat di Pajajaran, ( Galuh Pajajaran ). Adapun Visi dan misi beliau menundukan Kerajaan Galuh Pajajaran yaitu : Misi : Menakhlukan Kerajaan Galuh Pajajaran Visi : Guna penyebaran Agama Islam. namun untuk dapat mewujudkan Visi dan misinya, sultan Banten memimta bantuan dari Keratuan Skala Beghak yang berpusat di Bandar Agung Sukadana Way Tebing Liwa. Beberapa hal yang membuat Sultan Banten meminta bantuan terhadap Kratuan Skala Beghak diantaranya yaitu : 1. Adanyanya keturunan Ratu Menapik atau Wangsa Sailendra yang disebut dengan Kebuwayan ( Kebuwayan Empat ). 2. Sultan Banten mengetahui bahwasanya Raja - Raja yang berada di Nusantara dibawah kekuasaan Keluarga Sailendra yang berada di Bumi Lampung, ( Ratu Skala Beghak ) Selanjutnya Sultan Banten mengirim utusannya terhadap Ratu Skala Beghak yang berpusat di bandar Agung Sukadana Way Tebing Liwa. Dalam pengiriman utusan tersebut Sultan banten mengirim utusannya kekkeratuan Skala Beghak sebanyak 2 ( Dua ) kali : 1. Pertama utusan Sultan banten tidak sampai pada Ratu Keratuan Skala Beghak menlainkan bertemu dengan Paksi yang berada di Bumi Lampung ( Paksi Empat ). 2. Kedua utusan Kesultanan banten bertemu dengan Ratu Skala Beghak di Bandar Agung Sukadan Way Tebing Liwa. Menyikapi hal tersebut lalu Ratu Skala Beghak mengirim utusannya sebanyak 40 ( Empat Puluh ) orang utusan guna membantu Kesultanan Banten. Adapun ke 40 ( Empat Puluh ) orang utusan terseut terdiri dari : 1. 8 ( Delapan ) orang utusan, ditambah 2 ( Dua ) orang utusan khusus dari Kebuwaian Buwai Banyu Nyerupa yang berpusat di Bandar Agung Sukadana Way Tebing Liw. 2. 10 ( Sepuluh ) orang utusan dari Kebuwaian Buwai Bujalan Diwai yang berada di Pekon Tengah Liwa. 3. 10 ( Sepuluh ) orang utusan dari Kebuwaian Buwai Bunyata ( Menyata ), yang berada di Pekon Sukanggeri Liwa. 4. 10 ( Sepuluh ) orang utusan dari Kebuwaian Buwai Belunguh, yang berada di Pekon Nenggeri Agung Liwa. Sebelum 40 ( Empat Puluh ) orang utusan tersebut diberangkatkan menuju Kesultanan Banten guna membantu Kesultanan Banten menakhlukan Kerajaan Galuh Pajajaran, Ratu Skala Beghak menunjuk 2 ( Dua ) orang dari Kebuwaian Buwai nyerupa ( dua orang utusan khusus ) guna mengetuai rombongan yang akan diberangkatkan ke bumi Banten. Setelah mereka semua telah dibekali dengan berbagai perlengkapan perang serta kebutuhan ( perbekalan ) secukupnya, kemudian ke 40 ( Empat Puluh ) orang utusan tersebut menuju ke Kesultanan Bantenguna bergabung terhadap Pasukan dari Kesultanan Banten. Setibanya utsan dari Keratuan Skala Berghak di Bumi banten mereka disambut oleh seluruh rakyat Banten dan Sultan Baten di Kesultanan Banten. Tak lama melepaskan lelah dari menempuh perjalanan yang cukup jauh, serta telah beradap tasi terhadap pasukan dari Kesultanan Banten, juga kedua pasukan tersebut telah menyatukan Visi dan Misi dari Sultan Banten, kemudian Pasukan Gabungan tersebut munuju ke Kerajaan Galuh Pajajaran ( Medan Perang ). Ketika kedua pasukan bertemu di medan perang pada akhirnya perang pun tak dapat dihindarkan perang yang terjadi pada akhirnya dimenangkan oleh Pasukan Gabungan Berita tentang takhluknya Kerajaan Galuh Pajajaran membuat seluruh rakyat Banten bergembira terlebih lagi Sultan Maulana Yusuf.kegembiraan, serta keharuan yang beliau rasakan membuat air mata beliau jatuh berlinangan. Betapa tidak, sejak Kerajaan Galuh Pajajaran di kuasai oleh Rahyang Purba Sora,hingga keturunan - keturnannya yang menjabat sebagai pemimpin di Kerajaan Galuh Pajajaran, kerajaan tersebut tak dapat ditakhlukan oleh kerajaan manapun, khususnya Raja - Raja yang ada di Jawa Dwipa. Hal tersebut dapat kita ketahui dari beberapa peristiwa yang menimpah Kerajaan Galuh Pajajaran diataranya : 1. Pada masa kepemimpinan Kerajaan Maja Pahit dibawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk, Kerajaan tersebut ingin menakhlukan kerajaan Galuh Pajajaran, dengan cara menjodohkan Raja Hayam Wuruk dan putri Raja Galuh Pajajaran bernama Diah Pitaloka, namun hal tersebut tak dapat terlaksanakan sehingga upaya Patih Gajah Mada yang ingin menyatukan Nusantara, tak dapat terlaksana. 2. Pada Masa Kerajaan Islam Demak dibawah kepemipinan Raja Tronggono serta Panglima Perangnya bernama Syarif Hidayatulloh, Kerajaan Islam Demak pernah menyerang Kerajaan Galuh Pajajaran, namun penyerangan tersebut hanya dapat merebut ke 3 ( Tiga ) kerajaan yang menjadi bawahan dari Kerajaan Galuh Pajajaran yang terdiri dari Kerajaan Sunda Kelapa, Kerajaan Banten, serta Kerajaan Cirebon. Kini dibawah kepemimpinan beliau Kerajaan Galuh Pajajaran dapat ditakhlukan oleh Kesultanan Banten ( Pasukan Gabungan ). Sekembalinya Pasukan Gabungan dari medan perang, Pasukan Gabungan tersebut disambut oleh seluruh Rakyat Banten dengan mengadakan berbagai acara di Kesultanan Banten. Didalam acara tersebut tak lupa Sultan Banten memberikan {mospagebreak}penghormatan terhadap pasukan yang gugur dalam pertempuran. Satu - persatu acara dilalui, kemudian atas jasa - jasa dari 40 ( Empat Puluh ) orang utusan dari Keratuan Skala Beghka ( Kebuwayan Empat ), Sultan Banten meminta kesediaan terhadap utusan Keratuan Skala Beghak untuk tetap berada di Bumi Banten. Atas kesediaan dari ke 40 ( Empat Puluh ) orang utusan dari Keratuan Sala Beghak untuk tetap berada di Bumi Banten lalu Sultan Maulana Yusuf menempatkan mereka di suatu wilayah yang diberinama Cikoneng. Bermula dari adanya 40 ( Empat Puluh ) orang dari Keratuan Skala Beghak tersebut lama - kelamaan mereka dikenal dengan sebutan " lampung Cikoneng " Catatan sejarah Asal Usul Lampung Cikoneng ini di tulis oleh Nyerupa Sang Wai Tu Opara Bahrun Sailendra, Anton Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Bahrun Djakia Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Sudirman Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Abdul Murad Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Mustopa Sailendra. Share/Bookmark Posted by Anton's Network at 2:15 PM Labels: sejarah 10 Comments: millati_bae said... Kok tidak disebutkan posisi lokasi-lokasi yang disebut? Misal Way Tebing Liwa. Oya, baru kali ini saya dengar Keratuan Skala Beghak. Kalau boleh tahu, literatur yang menyebutkan keberadaan keratuan itu apa judulnya? January 23, 2010 10:29 AM Ovara said... Literature dari buku tua yang berbahasa lampung isinya mengenai asal-usul kerajaan yang berada di indonesia, ini sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia tampa mengurangi isi dan maknanya, di sebutkan bahwa asal usul buku itu diturunkan dari raja-raja terdahulu di bumi lampung, yang merupakan cikal bakal kerajaan-kerajaan yang berada di Indonesia. February 17, 2010 1:53 PM Anonymous said... Apa benar Cikoneng Pak Pekon merupakan keturunan Skala Brak?kalau benar seharusnya mereka berdialek "api" sebagai dialek masyarakat Sai Batin?klo memang benar, mengapa mereka berdialek nyow (menurut masyarakat cikoneng pak pekon mereka adalah keturunan 40 prajurit pilihan tulang bawang/Laskar Sawunggaling yang dihadiahkan oleh Kerajaan Tulang Bawang kepada Pangeran Sabakingking/Maulana Hasanudin saat menyebarkan ajaran Islam) salah satu pernyataan yang bertentangan dengan fakta dan mengada-ngada... http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=37055 June 12, 2010 11:12 AM Sultan Pasak Buay Sekekhummong said... Maaf..., saya sarankan saudara belajar lebih banyak lagi tentang Paksi Pak Skala Bekhak mulai dari pra Islam sampai pada era Islam, biar gak asal tulis. December 7, 2010 12:41 AM SALIWA said... tabik, keratuan sekala brak ada hingga saat ini.. June 9, 2011 2:03 PM Anonymous said... Apa faedah buat saya baca lebih banyak tentang Skala Bekhak. Hanya dongeng yang penuh ego dan euforia yang tidak jelas. August 4, 2011 1:51 AM edo junior said... tolong ceritakan ..bagaimana..komentar ketua adat lampung cikoneng yg ada dibanten...tentang cerita lampung cikoneng yg anda tulis.....apakah ada buku yg anda buat... October 26, 2011 11:16 PM Anonymous said... apakah masih dapat kita jumpai penduduk cikoneng dgn suku asli lampung dicikoneng January 14, 2012 10:57 PM Anonymous said... apakah suku asli lampung cikoneng masih memeggang teguh bahasa,adat istiadat serta kebudayaan seperti daerah asal mereka yaitu LAMPUNG sampai sekarang, atau malah adat istiadat banten. ! mhn penjelasanya.TERIMA KASIH January 14, 2012 11:03 PM great lampung said... untuk anonymous said:kepicikan dan ke fanatikan juga kurang nya adab akan mmpersempit pemikiran juga menutup khasanah intelektual tuk berdiskusi.kawan janganlah terlalu berlebihan menyikapi sehingga kita hilang adat ketimuran dalam bermusyawarah dan berkumpul.tlg October 22, 2012 6:27 AM

Pembagian Wilayah etnis Lampung Berdasarkan Way

Wednesday, September 30, 2009 Pembagian Wilayah Lampung Berdasarkan Way Language : Inggris Masyarakat Lampung hidup teratur dengan berpegang kepada norma dan adat perniti baik yang tertulis dalam huruf Lampung Kuno maupun secara lisan secara turun temurun. Kehidupan kemasyarakatan diatur dengan sistem kekerabatan yang bersifat Genealogis Patrilineal dimana pemerintahan dilakukan secara adat terutama yang mengatur sistem mata pencaharian hidup, sistem kekerabatan, kehidupan sosial dan budaya. Secara Harfiah Buway (Bu-Way) berarti pemilik air atau pemilik daerah kekuasaan berdasarkan daerah aliran air atau sungai (Diandra Natakembahang:2005). Pembagian daerah dan wilayah berdasarkan sungai sungai atau way yang ada di Lampung sehingga menjadi beberapa Marga Atau Buway, pembagian ini dimaksudkan agar tidak terjadi perselisihan antar marga atau kebuayan. Pembagian wilayah ini diatur oleh Umpu Bejalan Di Way. A. Wilayah Kekuasaan Kepaksian inti Paksi Pak Sekala Brak: 1. Way Selalau 2. Way Belunguh 3. Way Kenali 4. Way Kamal 5. Way Kandang Besi 6. Way Semuong 7. Way Sukau 8. Way Ranau 9. Way Liwa 10. Way Krui 11. Way Semaka 12. Way Tutung 13. Way Jelai 14. Way Benawang 15. Way Ngarip 16. Way Wonosobo 17. Way Ilahan 18. Way Kawor Gading 19. Way Haru 20. Way Tanjung Kejang 21. Way Tanjung Setia B. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Melinting: 1. Way Meringgai 2. Way Kalianda 3. Way Harong 4. Way Palas 5. Way Jabung 6. Way Tulung Pasik 7. Way Jepara 8. Way Kambas 9. Way Ketapang 10. Way Limau 11. Way Badak 12. Way Pertiwi 13. Way Putih Doh 14. Way Kedondong 15. Way Bandar Pasir 16. Way Punduh 17. Way Pidada 18. Way Batu Regak 19. Way Berak 20. Way Kelumbayan 21. Way Peniangan C. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Pubiyan Telu Suku: 1. Way Pubiyan 2. Way Tebu 3. Way Ratai 4. Way Seputih 5. Way Balau 6. Way Penindingan 7. Way Semah 8. Way Salak Berak 9. Way Kupang Teba 10. Way Bulok 11. Way Latayan 12. Way Waya 13. Way Samang 14. Way Layap 15. Way Pengubuan 16. Way Sungi Sengok 17. Way Peraduan 18. Way Batu Betangkup 19. Way Selom 20. Way Heni. 21. Way Naningan D. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Sungkay Bunga Mayang: 1. Way Sungkay 2. Way Malinai 3. Way Tapus 4. Way Tapus 5. Way Ulok Buntok 6. Way Tapal Badak 7. Way Kujau 8. Way Surang 9. Way Kistang 10. Way Raman Gunung 11. Way Rantau Tijang 12. Way Tulung Selasih 13. Way Tulung Biuk 14. Way Tulung Maus 15. Way Tulung Cercah 16. Way Tulung Hinduk 17. Way Tulung Mengundang 18. Way Kubu Hitu 19. Way Pengacaran 20. Way Cercah 21. Way Pematang Hening E. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Buay Lima Way Kanan: 1. Way Umpu 2. Way Besay 3. Way Jelabat 4. Way Sunsang 5. Way Putih Kanan 6. Way Pengubuan Kanan 7. Way Giham 8. Way Petay 9. Way Hitam 10. Way Dingin 11. Way Napalan 12. Way Gilas 13. Way Bujuk 14. Way Tuba 15. Way Baru 16. Way Tenong 17. Way Kistang 18. Way Panting Kelikik 19. Way Kabau 20. Way Kelom 21. Way Peti F. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Abung Siwo Mego: 1. Way Abung 2. Way Melan 3. Way Sesau 4. Way Kunyaian 5. Way Sabu 6. Way Kulur 7. Way Kumpa 8. Way Bangik 9. Way Babak 10. Way Tulung Balak 11. Way Galing 12. Way Cepus 13. Way Muara Toping 14. Way Terusan Nunyai 15. Way Pematang Hening 16. Way Banyu Urip 17. Way Candi Sungi 18. Way Tulung Biuk 19. Way Tulung Pius 20. Way Umban 21. Way Guring G. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Mego Pak Tulang Bawang: 1. Way Rarem 2. Way Gedong Aji 3. Way Penumangan 4. Way Panaragan 5. Way Kibang 6. Way Ujung Gunung 7. Way Nunyik 8. Way Lebuh Dalom 9. Way Gunung Tukang 10. Way Pagar Dewa 11. Way Rawa Panjang 12. Way Rawa Cokor 13. Way Tulung Belida 14. Way Karta 15. Way Gunung Katun 16. Way Malai 17. Way Krisi H. Wilayah Kekuasaan Penyimbang Punggawa Komering: 1. Way Komering 2. Beserta anak sungainya Sumber : • www.tulangbawang.go.id. • www.id.wikipedia.org. • http//melayuonline.com AddThis Posted by afta ku bersama at 9:37 PM

cikoneng pakpekon(cikoneng,salatuhur,tegal,bojong)Tidak Mengenal Lampung, Tapi Berbahasa Lampung

Radar Banten News / Rubrik / Utama Tidak Mengenal Lampung, Tapi Berbahasa Lampung By redaksi Minggu, 25-Januari-2009, 05:42:16 Komunitas Warga Lampung di Cikoneng, Anyer yang Telah Menetap Sejak Abad 17 “Nyepo’i sapo, Pak RT ma’wat kayanya mah, Pak RT hadu lapah tadi, sana ijine sapo nan, mit dipo emang,” ucap wanita setengah baya yang hanya bisa berbahasa Lampung kepada seseorang yang menanyakan keberadaan Ketua RT di kampung Tegal, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Serang. FAUZI ALBANTANI & SRI HARTATI - Serang Bahasa dan logat Lampung sangat kental terdengar di Cikoneng, Anyer, Kabupaten Serang. Daerah yang letaknya berada di pesisir pantai barat pulau Jawa ini, merupakan daerah pemukiman komunitas penduduk yang berbahasa Lampung. Sehingga, sekilas, jika berada di Cikoneng akan terasa seperti di Lampung. Komunitas warga Lampung yang mendiami Kp Salatuhur, Kp Tegal, Kp Bojong, Kp Cikoneng yang biasa disebut Lampung Pa’pekon (Empat kampung Lampung) ini adalah etnis Lampung yang menjadi bagian dari masyarakat Banten yang pada umumnya berbahasa Jawa Banten dan Sunda. Berdasarkan sejarah, warga Lampung Cikoneng sudah mendiami daerah ini sejak abad 17 lalu. Namun, mereka masih setia menggunakan bahasa Lampung sebagai bahasa sehari-hari. Hingga kini, bahasa Lampung menjadi bahasa utama untuk berkomunikasi dengan sesama warga yang ada di daerah yang menyuguhkan wisata pantainya ini. Masamah (40), warga Kp Tegal, Cikoneng, Anyer, Serang mengaku, bahasa Lampung yang ia gunakan untuk berdialog diperoleh secara turun temurun. Sejak kecil, ia sudah diajarkan bahasa Lampung oleh orang tuanya. Padahal Masamah mengaku belum pernah menginjakan kakinya di tanah Lampung. “Saya mengenal bahasa Lampung dari ibu saya, padahal kami tidak punya sanak saudara di Lampung. Apalagi kami juga belum pernah ke Lampung,” katanya saat berbincang-bincang di depan rumahnya bersama tetangganya, Kamis (22/1). Tak hanya orang dewasa yang fasih berbahasa Lampung. Anak-anak Cikoneng, Anyer juga fasih berbahasa tersebut. Padahal, secara khusus mereka tidak diajarkan berbahasa Lampung. Hal ini dikarenakan anak-anak di sini sudah mengenal dengan sendirinya, seiring dengan bahasa Lampung yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. “Sejak umur 7 tahun ketika mereka duduk di bangku sekolah mereka selalu menggunakan bahasa Indonesia. Tapi lama kelamaan mereka bisa sendiri, karena keseringan mendengar dan mengenal bahasa Lampung setiap hari.” Ungkap Masamah. Hal yang sama diungkapkan Hasun Safari, sesepuh desa Cikoneng, Anyer. Baginya perbedaan mendasar dari penggunaan bahasa Lampung Sumatera dengan Cikoneng yang hingga kini masih terjaga dan masih dipertahankan yaitu pada proses penekanan pembelajaran bahasa. Sejak dini bahasa Lampung diajarkan dan dikenalkan pada anak-anak. Ia menegaskan, orang Lampung asli pun belum tentu bisa berbahasa Lampung, karena mereka tidak mempunyai rasa kebanggaan pada bahasa daerahnya sendiri. Hal ini juga dibuktikan pada saat anaknya bermain ke tempat temannya, yang terletak di Sumatera. Ternyata temannya yang asli Lampung itu buta akan bahasa daerahnya sendiri, akan tetapi anaknya yang jelas bukan asli Lampung lebih fasih dibandingkan dengan anak asli Lampung. ”Kami warga Lampung-Cikoneng bangga, karena bahasa yang kami gunakan ternyata masih bisa bertahan hingga kini,” Ungkapnya. Walau sudah lebih dari empat abad tinggal di Banten, warga Lampung-Cikoneng menganggap bahasa Lampung yang digunakan sehari-hari adalah bahasa yang harus dilestarikan. Menurut Hasun, Anak-anak di perkampungan ini tetap diajarkan bahasa Indonesia, tetapi walaupun demikian masyarakat harus tetap mempertahankan bahasa ibu yakni bahasa Lampung,” ungkap lelaki yang berprofesi sebagai guru SD ini, seraya menambahkan, konsisten dalam bahasa ibu merupakan hal yang paling penting dalam melestarikan bahasa Lampung yang ada di Banten. Sejarah Lampung-Cikoneng Keberadaan warga Lampung-Cikoneng, tak lepas dari sejarah Banten sebelum menjadi kerajaan yang mandiri. Berdasarkan sejarah, warga Lampung-Cikoneng merupakan keturunan 40 prajurit pilihan kerajaan Tulang Bawang yang dihadiahkan kepada Pangeran Sabakingking (Maulana Hasanudin) saat masih seorang muballigh. Ke-40 prajurit yang disebut-sebut sebagai Laskar Sawunggaling ini bertugas mengawal Maulana Hasanudin dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Mereka juga berjasa mengantarkan Banten menjadi kerajaan Islam yang merdeka pada 8 Oktober 1526. Karena Kerajaan Tulang Bawang ikut membantu Banten dalam mendirikan kerajaan, Maulana Hasanudin yang sudah menjadi sultan Banten, memberikan jabatan adipati di wilayah Banten kepada salah satu putra istana kerajaan Tulang Bawang. Putra istana Kerajaan Tulang Bawang yang waktu itu menjabat adipati adalah Minak Sangaji. Ia meminta wilayah barat Banten sebagai tempat tugasnya. Minak sangaji juga dibolehkan membawa masyarakat Lampung ikut serta mendiami Anyer. Minak Sangaji membawa masyarakat Lampung berasal dari berbagai marga (kebuaian). Karena menetap lama, warga Lampung yang mendiami wilayah barat Banten ini beranak pinak hingga saat ini. Walaupun warga Lampung-Cikoneng bukan berasal dari etnis Banten, namun keberadaan mereka menjadi bagian keunikan Banten yang dikenal sebagai tanahnya para sultan. (***) Radar Banten : http://www.radarbanten.com Online version: http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=37055

Siger dari Anyer

Siger dari Anyer adrianrnugraha.wordpress.com ilustrasi Selasa, 9 November 2010 | 06:12 WIB Cerpen: Hilal Ahmad Aku masih di sini. Di tepi pantai Kampung Bojong, di sudut utara Banten. Mercusuar berdiri kukuh menantang matahari mulai tergelincir di ufuk barat. Dua jam sudah aku ditemani debur pantai pesisir Anyer, yang katanya sebagai Bali kedua. Tapi eksotisme pantai Anyer yang dikenal sejak puluhan tahun lalu dan diabadikan dalam lagu, tak kunjung menjadikan Banten sebagai lokasi favorit yang pantainya menjaid prioritas wisatawan. Seperti Diandra. Mungkin dia enggan menemuiku di sini. Padahal lelaki bermata sayu itu berjanji akan kembali menemuiku di pantai ini setelah tiga purnama. Namun ini purnama keempat. Namun sosoknya tak kunjung tiba. *** Debur ombak terus bergemuruh, mengantar senja menuju pergantian hari. Aku melangkahkan kaki menuju pulang. Rumahku di Cikoneng, tidak jauh dari Mercusuar peninggalan Belanda itu. Konon, dari petikan Dalung Kuripan atau Prasasti Kuripan yang masih teronggok di sudut kampungku, kampung tempatku tinggal salah satu bukti kuatnya persahabatan masyarakat Banten dan Lampung. Persahabatan yang sudah berumur 400 tahun lebih ini melahirkan perkampungan suku Lampung yang akrab disebut Lampung Cikoneng atau Cikoneng. Aku memang generasi ketiga dari leluhurku yang hijrah ke pesisir Anyer. Namun aku sama sekali tak mengenal budaya nenek moyangku yang hanya terpisah selat Sunda. Padahal perjalanan menuju tepi selatan pulau Sumatera itu sangat singkat, hanya tiga jam menggunakan kapal roro. Emak dan Ayah pun tidak pernah mengajak ke tempat di mana aku berasal. Wajar jika aku tak mengenal tempat leluhurku lahir. Menurut Kakek, kampungku satu dari empat kampung yang disebut kampung empa’ pekon. Tiga kampung lainn adalah Bojong Tegal, dan Salatuhur. ”Ini ditandai dengan ikrar saling membantu menjaga kedaulatan dan syiar Islam antara Pangeran Saba Kingking dari Kesultanan Banten dengan Ratu Darah Purih dari keratuan Lampung pada abad ke-16. Ikrar itu tertulis dalam sejarah Babat Kuripan dengan Dalung Kuripan atau Prasasti Kuripan yang ditulis dalam bahasa Jawa Banten,” ujarku pada Diandra di suatu senja. Mahasiswa semester akhir Universitas Lampung itu nampak termangu. Sepertinya ia serius menyimak penjelasanku. ”Kamu sangat cakap menerahkan silsilah kampung ini, sepertinya kamu sangta hafal dan mengerti. Beruntung aku bertemu dirimu dalam penelitianku ini,” ujar Diandra sambil terus menghujamkan matanya padaku. Aku tersipu, dan memandang ke lain arah tepat pada seorang nelayan yang melempar sauh di dekat tepian pantai. ”Kampung ini sudah menjadi darah dagingku, mengurat akar dalam benak. Kakek mengajarkan ini padaku,” ujarku sambil menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya tanpa suara. Itu minggu kedua aku mengenal Diandra Prasetya. Lelaki berkulit kuning langsat dan bermata sipit ini sekilas memang mirip warga Tionghoa. Tapi begitulah garis wajah yang tergambar pada suku asli Lampung yang tersebar di pesisir pantai maupun pedalaman. Aku sudah tidak asing. Aku banyak menemukan garis ajah itu di beberapa sanak keluargaku. Kakek pun banyak bercerita tentang hal ini. Mungkin inilah yang membuatku langsung merasa nyaman dengan Diandra sejak Ayah memperkenalkanku dengannya sejak hari pertama. Ayahku memang kepala suku yang dituakan di Cikoneng. Tak heran jika Diandra langsung menyasar rumahku untuk objek penelitiannya seputar keturunan Lampung di Banten. Jika saja Kakek masih ada, mungkin aku tidak akan pernah menemani Diandra ke berbagai lokasi peninggalan sejarah dan terlibat konflik hati yang membuatku sakit di kemudian hari. *** Kedekatanku dengan Diandra kian hari kian intim. Pun saat aku mengantarkannya ke Prasasti Kuripan yang berbunyi, “Lamun ana musuh Banten, Lampung pangarep Banten tut wuri. Lamun ana musuh Lampung, Banten pangarep Lampung tut wuri.” Ini memang bukan bahasa Lampung, apalagi Lampung dengan dialek pesisir tempat Diandra berasal. Ini merupakan bahasa Jawa Banten yang dialek serupa banyak ditmukan di Serang tepatnya di kawasa peziarahan Banten Lama tempat Sultan Maulana Hasanudin disemayamkan. ”Ini berarti, jika ada musuh Banten, Lampung yang akan menghadapi dan Banten mengikuti. Dan jika ada musuh Lampung, Banten yang akan menghadapi dan Lampung mengikuti,” begitu penjelasanku mengenai makna prasasti itu pada Diandra. Ia menatapku lekat. ”Aku akan melakukan ini untukmu Raya,” ujarnya lirih. Aku terkesiap. Segera kusembunyikan wajahku dengan menundukkan ke tanah, aku tak ingin rona merahku terbaca olehnya. Aku pun tak ingin degup jantung yan berdetak lima puluh kali lebih cepat sejak hari pertama meihatnya, terdengar oleh Diandra, lelaki dengan wajah yang selalu mengunjungi beragam kisah dalam tidurku. ”Aku serius Raya, apapun yang terjadi, aku akan melakukan semuanya untukmu. Aku rela mengadapi sejuta prajurit berpistol tanpa meriam Kiamuk yang sekarang hanya tersimpan di musium Banten Lama,” ujar Diandra. Nada suaranya terdengar menggebu, mengalahkan deru angin yang terasa semakin dingin menusuk kulit. Aku tertunduk. ”Serius Diandra. Tapi aku hanya gadis lulusan SMA, sedang kamu sebentar lagi arjana,” ujarku yang mengenang masa manis putih abu-abu saat di SMAN 1 Anyer dua tahun lalu. Saat di bangku SMA, belum pernah ada lelaki yang berkata begitu manis padaku. Dan Diandra adalah pengecualian dalam hidupku saat ini. Ia begitu terbuka. Kata-katanya begitu mengena di hati, dan meninggalkan jejak hingga di atas peraduan, membuatku tak bisa terlelap hingga pagi. Aku tak menjawab apa-apa saat itu. Namun para pria mengartikan lain. Menurut mereka yang mengutamakan logika daripada rasa, tingkah diam seseorang wanita dalam menyikapi sesuatu, berarti tanda setuju. Sedangkan aku, hanya menikmati apa yang menjadi seharusnya kualami dalam hidupku. Aku sudah mendamba sejak lama masa-masa seperti ini. Pun saat duduk di bangku SMA. Entahlah, pepatah bijak mengatakan, kadang Tuhan tidak menjawab doa kita pada saat itu juga tapi menyimpannya untuk nanti. ”Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan tapi yang kita butuhkan.” Itu kalimat Ayah yang selalu kuingat tentang memaknai hidup. *** Setelah kejadian itu, aku tak lagi canggung menceritakan segala cerita kehidupanku. Sebaliknya, aku pun tak malu menanyakan tentang latar belakang kehidupannya. Ini bukan cerita Cinderella, karena aku yakin Diandra bukan pangeran dan aku pun bukan putri miskin yang ditinggal mati kedua orangtuanya dan terlunta-lunta karena hidup dengan ibu dan saudara tirinya. Aku adalah aku, Raya Meriska, generasi ketiga suku Lampung yang tinggal di pesisir Anyer. Sedikitnya aku mengerti tradiis Lampung yang mengutamakan pernikahan dengan sesama suku. Tapi aku yakin, Diandra dapat memaklumi itu. Meskipun aku lahir dan dibesarkan di Anyer, leluhurku berasal dari Lampung. Meskipun dialek Lampung kami berbeda karena menyesuaikan dengan masyarakat setempat, tapi tetap saja kami adalah berasal dari Lampung. Bukankah ayam tetap akan dinamai ayam meskipun dipelihara seekor elang. Leluhurku datang ke daerah yang sekarang dipanggil Cikoneng pada abad ke-18. berawal dari peristiwa penaklukan kerajaan Padjajaran, Kedaung, Kandang Wesi, Kuningan dan terakhir daerah Parung Kujang oleh prajurit dari Keratuan Lampung. Penaklukan daerah Parung Kujang yang sekarang Kabupaten Sukabumi pada abad ke-17. Pada waktu penaklukan Parung Kujang, Keratuan Lampung tidak diketahui sedang dipimpin siapa. Sebab kerajaan Lampung waktu itu ada dua, Kuripan (Kalianda) dan Tulang bawang yakni Menggala. Tapi saat itu Kesultanan Banten diketahui sedang berada dalam pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Keratuan Lampung mengirimkan empat orang prajurit kakak beradik, yaitu Menak Gede, Menak Iladiraja, Menak Sengaji dan Menak Parung. ”Mungkin aku adalah salah satu reinkarnasi dari empat prajurit kakak beradik itu Raya. Aku datang ekamri untuk menjemputmu kembali ke tanah leluhurmu dan kita menikah di sana dan membesarkan anak kita,” ujar Diandra di suatu siang. Seperti biasa, setelah berkelilng ke bebera situs peninggalan sejarah, aku dan Diandra beristirahat di saung dekat Mercusuar yang menghadap pantai. Di sana, Diandra asyik mencatat berbagai keterangan dengan detil dan memeriksanya kembali di saung itu. Diandra tipe lelaki yang ulet. Berebeda dari cerita kakekku. Sebelum ia meninggal, ia mengatakan, tak perlu menikahi lelaki satu suku jika memang merepotkan. ”Tak banyak yang bisa diandalkan dengan mempertahankan adat pernikahan satu suku selain melebarkan jarak persatuan kebangsaan Raya,” ujar Kakek setelah mengatakan perangai mekhanai atau pemuda Lampung lebih suka bersantai daripada bekerja keras. ”Tapi mereka terbuka menerima pendatang, seperti slogan sang bumi ruwa jurai yang berarti satu bumi dua jenis penduduk, maksudnya pribumi dan pendatang. Mereka hidup berdampingan satu sama lain,” jelasnya. Entahlah, aku begitu terpesona pada Diandra. Sorot matanya yang sayu yang terpancar drai mata sipitnya, justru membuatku semakin rindu. Rasanya tak sedetikpun ingin kulewatkan tanpanya. Ini benar-benar gila, tapi ini cinta. ”Kau tau Diandra, keempat utusan itu saat datang ke Kesultanan Banten dan melapor, sempat membuat Sultan Agung kecewa. Bagaimana bisa empat orang mengalahkan ratusan praurit musuh. Tapi itu ditepis setelah keempatnya membuktikan kelihaian taktik tipu muslihat yang berhasil mengalahkan pasukan Parung Kujang. Kisah penaklukan itu sampai kini terkenal dengan cerita rakyat Cikoneng, Taktik Manusia Kerdil dan Baju Dendeng,” ujarku. ”Wao, aku sungguh luar biasa. Aku berani bertaruh, kau akan menjadi sejarawan terkenal abad ini jika kau melanjutkan studimu ke jenjang lebih tinggi,” Diandra berkata spontan. Kemudian meminta maaf setelah kurasakan wajahku merona seperti ditampar dengan rotan. ”Maaf, aku tak bermaksud menyinggungmu dengan kata-kataku tadi,” suara Diandra melunak. Ia tahu, aku sangat ingin kuliah. Tapi ia juga tahu, keluargaku yang hanya menggantungkan hidup dari laut hanya bisa menyekolahkanku hingga bangku SMA. ”Bisa kau lanjutkan lagi ceritamu mengani empat prajurit utusan Keratuan Lampung tadi?” Diandra mengalihkan pembicaraan. Aku menyeruput es kelapa muda yang menurutku sudah tidak lagi asing. Lain halnya dengan Diandra yang nampak sangat menikmati dengan minuman yang disajikan langsung dengan batok kelapa yang masih ranum. ”Karena keberhasilan mereka, Sultan Agung akhirnya mengangkat Menak Gede sebagai adipati di Kerajaan Banten. Namun setelah setahun menjabat, Menak Gede meninggal dunia. Jabatan Adipati diserahkan kepada adiknya, Minak Iladiraja. Ia pun mengalami nasib yang sama, wafat setahun kemudian. Sayang, makam kedua kakak beradik itu tidak pernah diketahui sampai saat ini,” ujarku memberi jeda. ”Sepeninggalan Menak Iladiraja, Menak Sengaji dipanggil Sultan untuk menggantikan Menak Iladiraja. Akan tetapi Menak Sengaji tidak langsung menerima jabatan itu. Ia meminta syarat mau diangkat menjadi adipati di luar daerah kekuasaan kakaknya. Menak Sengaji ingin daerah Banten bagian barat, daerah yang langsung berhadapan dengan daerah leluhurnya. Ia juga meminta dibolehkan membawa saudara-saudaranya dari Lampung,” imbuhku sambil melempar pandang ke lautan, menatap pulau kecil yang kadang terselimuti kabut. ”Lalu,” Diandra penasaran. Syarat itu diluluskan Sultan Agung. Malahan Sultan Agung memberi Menak Sengaji hak kepemilikan atas selat sunda termasuk Pulau Sangiang,” aku menujuk pulau yang ada di depan kami. ”Dan tanah sepanjang pesisir Selat Sunda, mulai dari Tanjung Purut atau Merak sampai ke Ujung Kulon. Dari Tanjung Purut ke pedalaman hingga ke Gunung Panenjuan atau Mancak dan terus membentang ke arah barat mencapai Gunung Haseupuan berakhir di Ujung Kulon. Itulah tanah kekuasaannya,” ujarku. ”Karena itulah kau ada di sini. Diboyong Menak Sengaji bersama 40 kepala keluarga yang terdiri dari sembilan buai, di antaranya Buai Aji, Arong, Rujung, Kuning, Bulan, Pandan, Manik dan Besindi itu,” Diandra bersemngat. Tak jauh dari tempat ia duduk, Blackberry Curve miliknya menyala, aku tahu ia sedang merekam pembicaraan kami. Tapi aku menghargainya sebagai kegigihan. Ia begitu ulet dalam mengumpulkan informasi. Kadang aku malu menjadi informan yang paling sering ia rekam. Aku bukanlah tetua adat, bukan pula aksi lakon sejarah. Aku hanyalah orang kedua bahkan ketiga yang mendapat cerita lelhuruku dari Kakek juga Ayah. Aku memandangi wajah Diandra yang berseri. Tanpa diulas dalam kata, aku sangat tahu ia menginginkanku terus bercerita. Karena itulah aku terus bersuara. Kadang, untuk seseorang yang kita cintai dengan sepenuh hati, kita rela melakukan apa saja. ”Pertama kali rombongan itu datang kemari, kemungkinan terbawa arus timur, rombongan Menak Sengaji terdampar di teluk perak. Akhirnya rombongan beristirahat tidak jauh dari teluk, tempat itu kemudian diberi nama Kubang Lampung, artinya tempat mendarat kumpulan warga Lampung di Banten. Setelah mengalami tiga kali perpindahan tempat rombongan Menak Sengaji sepakat menempati kawasan pantai Anyer yang dulu bernama Alas Priuk dan pelabuhannya dinamai Pelabuhan Priuk. Kemudian mereka mendirikan pemukiman lampung yang diberi nama Kampung Bojong,” ujarku patah-patah. Aku tak sanggup lagi menceritakannya. Aku teringat wajah Kakek yang tirus di atas pembaringan. Namun ia tetap gigih menceritakannya untukku. ”Berputarnya roda waktu, jumlah 40 kepala keluarga itru itu beranak pinak, Kampung Bojong dimekarkan menjadi empat kampung yaitu Kampung Bojong, Kampung Cikoneng, Kampung Tegal dan terakhir Kampung Salatuhur,” aku berhenti sejenak. Ada satu kalimat yang tak kuberitahu pada Diandra. ”Tapi kudengar ada cerita menarik ketika rombongan ini sedang membuat kampung Salatuhur. Sultan Ageng tiba-tiba datang berkunjung. Kampung Salatuhur belum memiliki nama waktu itu. Dengan segera Menak Sengaji lalu meminta Sultan untuk memberi nama. Karena waktu sudah masuk waktu salat Zuhur, diberilah nama Kampung salat Zuhur dan karena perkembangan bahasa, kini ejaannya berganti menjadi Kampung Salatuhur,” ujar Diandra dengan nada bercanda. Akupun tersenyum, llau tertawa kecil. Begitulah cara Diandra mengiburku. Ia sangat tahu dan pandai membaca air mukaku. ”Masih ada cerita lucu lagi, di Kampung Salatuhur, Sultan Ageng mengajak untuk salat Zuhur berjamaah. Tapi sial, kampung belum memiliki sumur untuk mengambil air wudu. Kemudian Sultan berdiri dan berjalan ke suatu tempat lalu menancapkan tongkatnya. Setelah dicabut bekas tancapan itu mengeluarkan air. yang hingga saat ini mata air itu masih utuh dan dipakai untuk umumt. Sumur itu dikenal dengan nama Sumur Agung, berdiameter kira-kira dua meter,” ujarku yang langsung ditanggapi decak kagum Diandra. ”Dahsyat kau Raya, andai saja besok aku diwisuda, maka aku akan melamarmu malam ini juga,” Diandra menatapku tajam. Tatapannya kali ini lain dari biasanya. Ia terus menatapku lekat. Sampai-sampai aku tak menyadari tangannya merayap di bagian paling sensitif di tubuhku. Aku terbuai, pun saat Diandra mengajakku ke saung paling ujung yang jarang dipilih pengunjung. Obak terus berdebur. Namun hatiku lebih berdebur. *** Aku termenung di depan makam Menak Sangaji yang tepat berada di samping kantor pos Anyer. Sejak tadi aku hanya begini. Dalam benakku bukan lagi seputar kedatangan 40 kepala keluarga yang doboyong Menak Sangaji ke Kampung Bojong, aku hanya memikirkan empat purnama yang kulewati tak sama dengan empat puluh hari yang kulalui bersama Diandra. Di tempat ini aku leluasa mengucurkan air mata. Tempat ini jarang dikunjungi masyarakat. Masyarakat Anyer memang tidak terlalu mengenal Menak Sangaji. Kecuali para keturunananya seperti aku. Aku terisak. Aku merasa sangat berdosa. Ini hampir purnama kelima, dan apa yang harus kusampaikan pada masyarakat tentang ruh yang menempel di rahimku. Aku bukanlah Maria yang memiliki anak-anak secara tiba-tiba karena kedatangan sebuah cahaya. Aku pun masih memiliki akal sehat bahwa anakku adalah pewaris dunia yang mengajarkan kebaikan. ”Kemana aku harus mencari kamu Diandra,” aku mendesah lirih. Aku tak kuat lagi menerima cercaan orang sekampung perihal perutku yang semakin menggelembung. Aku pun tak ingin membuat beban Emak dan Ayah semakin payah. “Dan kau adalah keturunan leluhur yang ditakdirkan sebagai kepala suku di kampung ini, kau adalah ratu Raya. Kau berhak mengenakan siger seperti yang banyak para gadis keratuan Lampung kenakan. Kenakanlah kain songket nenekmu yang tersimpan rapi di dalam lemari Kakek,” itu kalimat terakhir Kakek yang tak kukatakan pada Diandra. Hari semakin sore. Matahari siap menggelincir ke ufuk barat. Aku berjalan perlahan ke arah langit yang memantulkan jingga yang semakin merona. Kain songket yang kukenakan serta siger yang bertengger di atas kepala membuatku harus perlahan dalam berjalan. Tak kupedulikan tatapan orang sekitar yang berpapasan denganku. Aku terus menuju laut, mencoba menyelami dasar selat sunda, berharap sampai ke pulau Sumatera untuk menemui Diandra. Air laut yang dingin dan asin langsung teras merembesi pori-pori. Deru ombak semakin santer terdengar di telinga. Buih laut terasa semakin perih menusuk mata. Namun aku tak akan menghentikan langkahku. Ini adalah cara terbaik untuk menebus noda yang kutoreh. Sampai seluruh tubuhku tak nampak lagi dari permukaan, aku terasa melayang. Sayup-saup terdengar suara orang yang kukenal. Ingin rasanya aku berbalik, tapi arus laut menggulung tubuhku. Hari semakin gelap. Rona merah siapo memudar berganti kelam. Samar-samar kulihat sosok Diandra berteriak-teriak sambil menerjang ombak menggapai siger yang tercecer di atas ombak kecil yang mengantarnya ke tepi pantai. Aku ingin berlari, namun seakan sangat berat. Sosok Diandra semakin mengecil. Tapi masih kulihat ia bersimpuh memeluk siger. Tak jauh dari sana seonggok ransel, dan orang-orang berlarian menuju laut mencari sesuatu. Aku hanya berdesis. ”Ini purnama kelima Diandra, dan aku lelah menunggumu untuk waktu yang lebih lama lagi.” (*) Dapatkan artikel ini di URL: http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&sqi=2&ved=0CDQQFjAD&url=http%3A%2F%2Fwww1.kompas.com%2Fprintnews%2Fxml%2F2010%2F11%2F09%2F06125021%2Fsiger.dari.anyer&ei=9m-EUNihMYTqrQf0mICoCw&usg=AFQjCNFiDHRHW1TWpaKsWtlwzl93dgSA7Q&sig2=kGwjRMr8DhZ6IJZQ9W-Ebw

joni sepriyan;;lampung song,song of lampung ethnic--Lagu Lampung "LIPANG KUNDANG "

joni sepriyan::LAMPUNG SAI WAWAI: BUDAYA MASYARAKAT LAMPUNG

LAMPUNG SAI WAWAI: BUDAYA MASYARAKAT LAMPUNG: Budaya Provinsi Lampung Provinsi Lampung dikenal juga dengan julukan “Sang Bumi Ruwa Jurai” yang berarti satu bumi yang didiami oleh dua m...