Tuesday, 25 December 2012

artikel & perbincnganHUBUNGAN SUKU KOMERING & LAMPUNG

Kamis, 04 November 2010 HUBUNGAN SUKU KOMERING & LAMPUNG Tulisan ini dimaksudkan untuk memperkaya khazanah budaya semata. Mohon maaf kepada tetua adat jika ada yang kurang berkenan dalam penyampaiannya. Tulisan ini kami kutip dari salah satu sumber yang tertera pada bagian akhir artikel ini. Bicara mengenai Komering, akan tak terpisahkan dari suku Lampung karena ia merupakan bagian etnis Lampung seperti halnya Ranau, Cikoneng, yang terletak di luar batas administratif Provinsi Lampung. Tak terelakkan lagi, banyak orang komering yang keluar dari daerah asal mereka di sepanjang aliran Way Komering untuk mencari penghidupan baru pindah ke wilayah yang dihuni etnis Lampung lain. Mereka membuka umbul maupun kampung (tiuh). Perpindahan kali pertama mungkin oleh marga Bunga Mayang yang kelak kemudian hari menjadi Lampung Sungkai/Bunga Mayang. Seperti diutarakan Suntan Baginda Dulu (Lampung Ragom, 1997): "Kelompok Lampung Sungkai asal nenek moyang mereka adalah orang komering di tahun 1800 M. pindah dari Komering Bunga Mayang menyusur Way Sungkai lalu minta bagian tanah permukiman kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818 s.d. 1834 M kenyataan kemudian hari mereka maju. Mampu begawi menyembelih kerbau 64 ekor dan dibagi ke seluruh kebuayan Abung." Oleh Abung, Sungkai dinyatakan sebagai Lampung pepadun dan tanah yang sudah diserahkan Buay Nunyai mutlak menjadi milik mereka. Kemungkinan daerah sungkai yang pertama kali adalah Negara Tulang Bawang membawa nama kampung/marga Negeri Tulang Bawang asal mereka di Komering. Dari sini kemudian menyebar ke Sungkai Utara, Sungkai Selatan, Sungkai Jaya dsb. Di daerah Sungkai Utara, seperti diceritakan Tjik Agus (64) pernah menjabat kacabdin di daerah ini, banyak penduduk yang berasal dari Komering Kotanegara. mereka adalah generasi keempat sampai kelima yang sudah menetap di sana. Perpindahan berikutnya, yang dilakukan Kebuayan Semendaway, khususnya Minanga. Menyebar ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah/Pulau Panggung, Bunglai, Cempaka (Sungkai Jaya) di Lampung Utara. Ke Sukadana Lampung Timur dekat Negeri Tuho. Juga masuk ke Pagelaran, Tanggamus. Dua Kampung Komering di Lampung Tengah (Komering Agung/Putih), menurut pengakuan mereka, berasal dari Komering. Nenek Moyang mereka berbaur dengan etnis Abung di Lampung-Tengah. Akan tetapi, mereka kurang mengetahui asal kebuayan nenek moyangnya (mungkin orang yang penulis temui kebanyakan usia muda < 50 tahun). Mereka menyebut Komering yang di Palembang "nyapah" (terendam). Kemungkinan mereka juga berasal dari Minanga. Karena kampong ini yang paling sering terendam air. Daerah Suka Banjar (Tiuh Gedung Komering. Negeri Sakti) Gedongtataan seperti diceritakan Herry Asnawi (56) dan Komaruzaman (70) (pensiunan BPN). Penduduk di sana mengakui mereka berasal dari Komering (Dumanis) walaupun dialek mereka sudah tercampur dengan dialek Pubian. Tidak menutup kemungkinan dari daerah lain di komering seperti Betung dsb., yang turut menyebar masuk daerah Lampung lain. Melihat perjalanan dan penyebaran yang cukup panjang, peran dalam menyumbang etnis Lampung (Sungkai), serta menambah kebuayan Abung (Buay Nyerupa), tak ada salahnya kita mengetahui tentang dialek, tulisan, marga, maupun kepuhyangan yang ada di daerah Komering. Bahasa Komering dalam banyak literatur bahasa Lampung termasuk dialek "a". Sedangkan dialek bahasa Komering, menurut Abu Kosim Sindapati (1970), terbagi menjadi dialek Bengkulah, dialek Tanjung Baru, dialek Semendaway, dan dialek Buay Madang. Kemudin Zainal Abidi Gaffar (1981) membagi menjadi dialek Martapura Simpang dan Buay Madang-Cempaka-Belitang. Perbedaan utama kedua dialek ini bahwa dialek Martapura Simpang memiliki fonem /e/ dan /?/ sedangkan Buay Madang-Cempaka-Belitang tidak. Bahasa Komering juga memiliki tulisan yang disebut Ka-Ga-Nga. Akan tetapi, orang Komering sering pula menyebutnya tulisan Ulu/Unggak. Tulisan ini dipakai orang tua pada zaman dahulu. Sekarang tulisan ini hampir tidak pernah dipakai lagi dan generasi muda tidak seberapa mengenalnya. Adapun marga yang terdapat di Komering Ulu, di antaranya marga Semendawai suku I/II/III dengan wilayah Minanga, Betung, Gunung Batu, Cempaka, dan sekitarnya. Marga Madang Suku I/II, Marga Buay Pemuka Bangsa Raja dengan wilayahnya Rasuan, Kotanegara, Muncak Kabau, Marga Belitang I/II/III dengan wilayah Gumawang, Sumber Jaya, Kota Sari, Marga Buay Pemaca, Marga Lengkayap. Pakaian Adat Suku Komering Marga Kiti dengan wilayah Simpang Tanjung, Gedung Pakuan, Marga Paku Sengkunyit. Marga Bunga Mayang. Marga Buay Pemuka Peliung dengan wilayah Martapura, Kambang Mas, Banton. Marga-marga tersebut kemungkinan tidak sesuai lagi dengan daerahnya karena adanya pemekaran wilayah. Sementara itu, di daerah ilir, bahasa Komering dipakai di daerah Tanjung Lubuk, Pulau Gemantung, dan sebagainya. Sedangkan daerah Kayu Agung merupakan sebuah marga di Kecamatan Kayu Agung. Di daerah Kayu Agung terdapat dua bahasa, yaitu bahasa Kayu Agung (BKA) dan bahasa Ogan dialek /e/. Ada variasi dialek dalam BKA. Variasi dialek yang terdapat di dusun marga Kayu Agung dianggap sebagai variasi asli, yang merupakan suatu dialek mirip dengan bahasa Komering. Adapun asal kepuhyangan/buay/marga yang ada di daerah Komering, seperti yang diuraikan dalam Adat Perkawinan Komering Ulu oleh Hatta/Arlan, Ismail. 2002: Riwayat etnis komering yang menyebar mendirikan tujuh kepuhyangan di sepanjang aliran sungai yang kini dinamakan Komering, ringkasnya sebagai berikut. Pada suatu ketika bergeraklah sekelompok besar turun dari dataran tinggi Gunung Pesagi, Lampung Barat menyusuri sungai dengan segala cara seperti dengan rakit bambu, dan lain-lain. Menyusuri Sungai Komering menuju muara. Menyusuri/mengikuti dalam dialek komering lama adalah samanda. Kelompok pertama ini kita kenal kemudian dengan nama Samandaway dari kata Samanda-Di-Way berarti mengikuti atau menyusuri sungai. Kelompok ini akhirnya sampai di muara (Minanga) dan kemudian berpencar. Mencari tempat-tempat strategis dan mendirikan tiga kepuhyangan. Kepuhyangan pertama menempati pangkal teluk yang agak membukit yang kini dikenal dengan nama Gunung Batu. Mereka berada di bawah pimpinan Pu Hyang Ratu Sabibul. Kepuhyangan kedua menempati suatu dataran rendah yang kemudian dinamakan Maluway di bawah pimpinan Pu Hyang Kaipatih Kandil. Kepuhyangan ketiga menempati muara dalam suatu teluk di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing. Di tempat ini kemudian dikenal dengan nama Minanga. Tak lama setelah rombongan pertama, timbul gerakan penyebaran rumpun Sakala Bhra ini. Menyusul pula gerakan penyebaran kedua yang seterusnya mendirikan kepuhyangan keempat. Kepuhyangan keempat menemukan suatu padang rumput yang luas kemudian menempatinya. Mereka di bawah pimpinan Pu Hyang Umpu Sipadang. Pekerjaan mereka membuka padang ini disebut Madang. Yang kemudian dijadikan nama Kepuhyangan Madang. Tempat pertama yang mereka duduki dinamakan Gunung Terang. Kepuhyangan kelima di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Adipati yang konon kabarnya suka membawa peliung. Dari kegemarannya ini dinamakan pada nama kepuhyangan mereka menjadi "Pemuka Peliung". Dari kepuhyangan ini kelak kemudian hari setelah Perang Abung menyebar mendirikan kepuhyangan baru, yaitu Kepuhyangan Banton oleh Pu Hyang Ratu Penghulu. Kepuhyangan Pakuon oleh Puhyang itu dan Kepuhyangan Pulau Negara oleh Pu Hyang Umpu Ratu. Kepuhyangan Keenam di bawah pimpinan Pu Hyang Jati Keramat. Istrinya, menurut kepercayaan setempat, berasal dari atau keluar dari Bunga Mayang Pinang. Kepercayaan ini membekas dan diabadikan pada nama kepuhyangan mereka, yaitu Bunga Mayang (kelak kemudian hari, inilah cikal bakal Lampung Sungkai). Kepuhyangan ketujuh di bawah pimpinan Pu Hyang Sibalakuang. Mereka pada mulanya menempatkan diri di daerah Mahanggin. Ada yang mengatakan kepuhyangan daya (dinamis/ulet). Kelak kemudian hari kepuhyangan ini menyebar mendirikan cabang-cabang di daerah sekitarnya seperti Sandang, Rawan, Rujung, Kiti, Lengkayap, dan lain-lain. Nama-nama marga atau kepuhyangan yang berasal dari rumpun kepuhyangan ini banyak menggunakan nama Bhu-Way (buway). Nama kebhuwayan ini dibawa orang-orang dari Sakala Bhra Baru generasi Paksi Pak. Ketujuh kepuhyangan yang mendiami lembah sungai yang kini dinamakan "Komering". Masing-masing pada mulanya berdiri sendiri dengan pemerintahan sendiri. Di bawah seorang sesepuh yang dipanggil pu hyang. Mereka menguasai tanah dan air yang mereka tempati dengan batas-batas yang disepakati. Ditinjau dari tujuan gerakan penyebaran (mempertahankan kelanjutan hidup kelompok untuk mencari tempat yang memberi jaminan kehidupan) serta cara mencari tempat yang strategis dalam mengikuti aliran sungai (samanda-diway), tampaknya Kepuhyangan Samandaway adalah yang pertama dan tertua. Orang-orang Samandaway menempati muara sampai di ujung tanjung (Gunung Batu). Yang patut kita tiru akan rasa solidaritas yang tinggi di antara mereka mengingat akan asal-usul mereka berasal dari kelompok yang sama. Semoga tulisan ini bermanfaat dalam melengkapi tentang marga etnis komering seperti yang telah dilakukan Unila dalam memetakan marga serta wilayah suku Lampung. * Sumber: Mohd Isneini, Dosen Jurusan Sipil Unila, Lampung Post, Minggu, 23 Desember 2007 Terima kasih sikam ucapko atas komentar-komentar sei kuruk melalui facebook Pulau Gemantung: Mar Diah (November 16, 2009 at 8:43 pm) Pantes aj dsni org lmpg srg ngaku2 komring i2 daerah lampung.aq gak suka! Pulau Gemantung (November 18, 2009 at 2:12 pm) haha... Tenang aja Chek, daerah Komering sudah sejak zaman Kesultanan Darussalam merupakan wilayah administratifnya... dan kemudian pada masa penjajahan Belanda daerah Komering termasuk kedalam wilayah Keresidenan Palembang. Mar Diah (November 18, 2009) at 6:49 pm) Hehe.ksel aj dgrny..aq blg mkny liat peta..!! Nuryadi Pahurian (November 23, 2009 at 10:10 am) Jangan marah2, kita smua msh satu garis keturunan...keturunan Nabi Adam...hehehe.. Lion Begawoh (December 5, 2009 at 4:06 pm) Orang kayu agung tu komering atau bukan,,,??soalnyo setiap aku tanyo ma orang kayu agung,katonyo dio bukan orang komering....coba jelaskan kawanku?? Diposkan oleh Pulau Gemantung di 06:41 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook 3 komentar: ДΠÐΓī ψλЙŠäh6 Agustus 2011 11:01 kayu agung tu wong komering jg,cubo lion tanyo sm wong kayuagung yg la tuo2 tp tinggal di lawok amen kato wong kayuagung nyo pst dio ngakui klw dio tu wong komering.dr bhsa be samo nian.tp klu au tnyo sm wong kayuagung yang tinggal di kota nyo dio wong dak mau ngakui nyo.amen kato wong tuo2 dl wong kayu agung tu KOMERING TUHANYUK,bnr apok idak aq dak tau,sbb wong nenek moyang wong kayuangung tu dl melok i aliran sungai mk nyo dio katokan komering tihanyuk.owh sampe lupo!!izin copas kolpah artikel na.donti kutulis ko source na ti blog sija makasih :) Balas Adi Atmadilaga, S.T.12 November 2011 13:19 Alang lamon sai nyukhitako asal usul jolma kumoring, tp sija sai nyak paling kurang panuju, mun kuti liak jah pudak juga kok mak gokgoh, Jak jaman belanda kerajaan kumoring kok wat n layon kerajaan lampung tp kok wat dibah semendawai Balas GREAT LAMPUNG25 Desember 2012 12:24 he he he,emang bener lau komering gk masuk provinsi lampung,tapi termasuk etnis lampung.ginilah kayak suku toba ada sub suku nya yakni suku karo,toba,simalungun,pakpak,mendailing.tentu etnis lampung juga sama.antara lain sub suku etnis lampung--suku krui,sukau,smuwong,abung,ranau,kayu agung,komering,sungkai,semaka,merpas di prov bengkulu,cikoneng pak pekon di prov bantendsb dst.dari sub suku tsb ada yg dulunya adalah marga.sedangkan saya sendiri dari krui,suku krui.dulu kwedanaan krui masuk keresidenan bengkulu kemudian atas ini siatif masyarakatnya bergabungdengan prov lampung yang note bane nya satu etnis.komering,krui,ranau dulu nya adalah satu kedatuan yakni kedatuan pemanggilan yg jauh sblm kedatuan komering dan paksipak berdiri,apa lagi keresidenan bentukan penjajah dan provinsi bentukan republik.tabi kawan,cubalah buka tambo saka(lama)pelajari tentang jurai(garis keturunan/sisilah/kekerabatan)jelas nihan ram sai etnis,sai asal.atoran adat tanoh marga kan memperjelas semua ini bkn kerancuan yg di ciptakan penjaajah dgn politik adu dombanya atau dengan standar republik(NKRI)yang menghapus atoran marga.untuk referensi dunia maya kunjungi blog ini greatlampung.blogspot.com--ulunlampung.blogspot.com atau protomalayans.blogspot.com,google juga wikepidia BalasHapus

suku kayu agung,suku abung,suku sungkai bunga mayang dan kaitan antar mereka

Senin, 25 Oktober 2010 LEGENDA DARI KAYUAGUNG 22:39 Long Story "iman" LSI No comments Sebagai Ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, kayuagung merupakan daerah yang sangat penting peranannya di kabupaten ini. Selain penduduk asli, ditempat ini bermukiman penduduk yang berasal dari berbagai daerah, tidak hanya dilingkungan Sumatra Selatan tapi juga dari luar propinsi. Masyarakat kayuagung Asli, menyimpan kisah yang sangat unik, sebagaimana yang dituturkan oleh berbagai sumber tradisional dan modern. Perkisahan dibawah ini, yang didasarkan pada beberapa sumber termasuk karya Dodoh Bihantarti Toponim Masyarakat Kayuagung, diterbitkan oleh Kandep Dikbud Ogan Komering Ilir, Noor Indones dan A Rahman pola penguasaan, pemilikan dan penggunaan Tanah secara Tradisional Daerah Sumatra Selatan Dekdikbud SumSel. Perkisahan ini melukiskan proses pembentukan identitas masyarakat kayuagung. Asal Usul Penduduk dalam Marga kayuagung berasal dari dua keturunan atau poyang. Keduanya, yaitu keturunan yang berasal dari Abung Bungamayang dan dari Skala Berak yaitu Komering-Batak. Abung Bungamayang mula-mula menempati daerah di sekitar Sungai Hitam Lempuing, dengan leluhurnya bernama Mekodum Mutaralam. Sedangkan keturunan yang berasal dari Skala Berak mula-mula bertempat tinggal di Batu Hampar Kijang poyang yang bernama Raja Jungut. Menurut cerita tutur yang beredar di kalangan masyarakt setempat, Puyang Mekodum Mutaralam. Ini berasal dari Abung Bungamayang yaitu suku bangsa yang terdapat di kresidenan Lampung Utara yang bernama Siwo Mego di daerah Wai Kunang. Pada awalnya, orang Abung tinggal di Wai Kunang dengan maksud untuk mencari tempat tinggal di Komering, akan tetapi lantaran mereka terdesak dalam suatu peperangan, maka mengundurkan diri memasuki sungai Macak, keluar ke sungai Lempuing. Di daerah inilah kemudian orang Abung menetap. Tempat yang mula-mula diduduki orang Abung ialah Kotapandan di daerah Sungai Hitam yaitu anak sungai Lempuing. Komunitas itu dipimpin langsung oleh Mekodum Mutaralam. Setelah meninggal dunia, ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Raden Sederajat. Ketika Raden Sederajat wafat ia digantikan oleh puteranya bernama Indera Bumi. Indera Bumi mempunyai dua putera laki-laki yaitu Setiaraja Diyah dan Setia Tanding. Tokoh yang namanya disebutkan pertama, yaitu Setiaraja Diyah yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pimpinan orang Abung Bungamayang katika beliau wafat. Dalam memimpin, ia dibantu oleh jurutulis Setiabanding Sugih. Kedudukannya berada di kotapandan. Pada masa kepemimpinan Setiaraja memimpin, maka ditetapkanlah adat istiadat kemasyarakatan oleh patih Gajahmada.Adat istiadat itu berisi peraturan tentang adat istiadat pedusunan, adat bujang gadis,dan masalah etika lainnya. Pada masa ini di ajarkan pula penulisan dengan menggunakan aksara Surat Rencong. Untuk mengatasi jumlah penduduk yang telah berkembang, pada masa kekuasaan Setiaraja Diyah Ini di lakukan pengembangan wilayah dengan membuka perkampungan sekaligus penempatan penduduk sekitar sungai lempuing, dengan nama Bulu Nawa. Ditempat baru ini diselenggarakan pula pemerintahan baru, yang masih berinduk pada kekuasaan lama yang berkedudukan dikota Pandan. Lambat laun, Bulu Nawa manjadi suatu tempat yang ramai dan maju. Kondisi ini mengundang kedatangan orang-orang yang berasal dari tempat-tempat yang jauh, termasuk orang-orang asing untuk mencari penghidupan. Bulu Nawa mulai di kenal sebagai tempat perdagangan. Karena telah menjadi sangat maju, sampai-sampai Setiaraja Diyah menggabungkan diri dengan negeri Bulu Nawa. Setiaraja Diyah menikahkan Putri nya si Rambut Putih dengan Ratu Aji. Tokoh yang di sebutkan terahir ini adalah memiliki kehebatan yang sangat tinggi sehingga di sebut sebagai dewa suku Milung yang pertama kali turun ke dunia. Menantu Setiaraja Diyah yang hebat ini menerima gelar Depati Jorang Angkatan dan ia menggantikan Setiaraja Diyah. Depati jorang Angkatan mempunyai anak bernama Depati punya Bumi. Anak inilah yang menggantikannya setelah ia mangkat. Depati punya Bumi selanjutnya di gantikan oleh Depati Lanang, yang setelah mangkat digantikan anaknya Depati Bungkuk. Akan halnya saudara Setiaraja Diyah, yaitu Setia Tanding telah berpindah tempat Ke pematang Bidara. Dalam kedudukannya sebagai pimpinan di pematang Bidara, ia selanjutnya digantikan oleh putera nya yang dikenal dengan sebutan Setia Kujang. Setia Kujang merasa kurang cocok di Pematang Bidara sehingga selanjutnya berpindah lebih ke hilir sungai, di suatu tempat sebelah hilir Muara Burnai sekarang. Setelah mangkat, Setia Kujang digantikan oleh puteranya Setia Landai. Setia Landai berkedudukan di kota Besi, sementara depati Bungkuk tetap berkedudukan di Bulu Nawa. Malang tidak dapat di hindarkan, pada masa kekuasaan kedua tokoh ini kota Besi dan Bulu Nawa secara bersamaan di serang oleh banjir sehingga keduanya, bersamaan seluruh rakyat pindah ketempat lain yang lebih aman. Setia Landai mendapatkan tempat di Pematang Sudahutang yaitu di berada di hulu Pedamaran sekarang, dan di beri nama Perigi. Sementara Setia Bungkuk mendapatkan tempatnya di Tanjung Beringin di tepian Batanghari Mesuji. Pada waktu mengungsi lantaran banjir, Depati Bungkuk membawa seperangkat gamelan yang diberi nama Tale Seratus. Kini gamelan itu telah tidak ada lagi karena telah dijual oleh salah seorang diantara keturunannya, yaitu Depati Kemala Anom. Depati Bungkuk mempunyai dua orang anak yaitu Purbajaya, dan yang satu lagi Depati Punya Bumi Muda yang kemudian menggantikannya memimpin dalam komunitas di Tanjung Beringin itu. Pada masa kekuasaan Depati Punya Bumi, masyarakat Abung yang berada di Tanjung Beringin berpindah tempat kehilir Pematang Sudahutang yaitu Perigi. Akan tetapi karena Perigi telah dipimpin oleh Setia landai maka Depati Punya Bumi Muda berada di bawah kekuasaan Setia Landai. Setia Landai sendiri, setelah wafat digantikan oleh puteranya Depati Jana dan memindahkan masyarakatnya dari pematang Sudahutang ke suatu dusun yang baru diberi nama Perigi pula. Pemindahan itu merupakan hasil mufakat antara Depati Jana dengan tokoh yang berasal dari skala Berak yang berkedudukan di Batuampar, yaitu Tuan Pegaduh. Karena terjadi pernikahan antara Surapati, anak Depati Jana dengan puteri Tuan Pegaduh yang bernama Dayang Sekara, maka Tuan Pegaduh memindahkan masyarakat dusunnya dari Batuampar ke suatu tempat masih ditepi sungai Komering. Tempat ini di kembangkan menjadi suatu dusun yang ramai. Lantaran di dusun itu di beri nama Kayuagung. Setelah berdiri dusun perigi dan kayuagung, maka masyarakat di dusun Sudahutang banyak yang meninggalkan tempat kediamannya semula. Ada yang pindah dan menetap di hulu dusun Perigi dan diberi nama Kotaraya. Kotaraya di pimpin oleh Departi Punya Bumi Muda. Sebagian lagi, penduduk Sudahutang pindah ke suatu tempat di seberang kayuagung dan di beri Sukadana. Sukadana di pimpin oleh saudara Depati Punya Bumi Muda yang bergelar Purbajaya. Depati Punya Bumi Muda berganti gelar menjadi Depati Kemalaratu Anom. Tokoh yang akan memangku jabatan kepala dusun, hendak lah di pilih oleh orang-orang Abung Bungamayang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Diyah dan Setia Tanding. Selanjutnya, dusun Sukadana kemudian dimekarkan kepada dusun Jua-Jua dan dipimpin oleh Tuan Jimat. Begitulah, tempat ini terus berkembang mencapai sembilan sehinga disebut dengan Morge Siwe atau Sembilan Marga. Suhunan di Palembang merasa memerlukan seorang untuk membantunya mengatur kesembilan dusun itu. Untuk itu dipilihlah salah seorang di antara pimpinan kesembilan dusun itu. Tokoh yang dipilih adalah Depatiraja Ikutan Muda. Dari Sukadana. Dalam kedudukan tersebut, Depatiraja Ikutan Muda diberi seperangkat atribut kebesaran oleh Suhunan palembang berupa satu payung perada atau emas, dua keris, tiga bilah pedang, dua pucuk tombak bertopang perak, satu lampit ulung, satu kajang seremang dari kain hitam bermotif bunga prada, dan sebuah gong. Gong pemberian suhunan sebagai atribut kebesaran ini memiliki keunikan tersendiri yang legendaris. Diceritakan bahwa apabila seorang diantara keturunan Raja Ikutan Muda meninggal dunia maka gong itu bersuara dengan sendirinya. Depati Raja Ikutan Muda diganti oleh putera saudaranya Depati Mahmud dengan gelar Ingganta yaitu anak Depati Mulia Jaya. Pada masa ini daerah tersebut takluk pada pemerintahan kolonial Belanda. Sejak masa itu pula terjadi susunan pemerintahan. Kisah di Balik Nama Sampai saat pemerintahan marga dibubarkan, dilingkungan marga Kayuagung telah berkembang manjadi 19 dusun, yaitu Sukadana, Paku, Mangun Jaya, Sida Kersa, Jua-Jua, Kayuagung, Perigi, Kotaraya, Kedaton, Celikah, Kijang Ulu, Muara Burnai, Tanjungsari, Lubuk Seberuk, Rantau Durian, Sungai Belida, Secupak, Tebing Suluh, dan Cahya Bumi. (Dewasa ini, jumlah itu telah bertambah). Setiap nama dusun tersebut memiliki cerita tersendiri sebagai asal-usulnya, sebagaimana dipaparkan berikut. Sukadana, dinamakan Sukadana karena lebak dari dusun itu mengelilingi sebuah danau. Pada mulanya dusun ini bernama Suka Danau, tapi lama kelamaan berubah penuturannya menjadi Sukadana. Sementara itu dusun Paku, dinamakan demikian memiliki latar belakang peristiwa berhubungan dengan tumbuhan paku atau sejenis pakis. Menurut cerita, pada waktu merintis dusun ini, Tuan Mekedum alias Bucit terjatuh kedalam pusaran air di Lubukbaru. Tempat ini berada di sebelah selatan dusun Jua-Jua. Pada waktu terjatuh itu ia dapat berpegang pada serumpun tumbuhan paku dan lantaran itu ia selamat dari pusaran air. Untuk memperingati peristiwa ini dusun ini dinamakan dengan dusun Paku. Menurut cerita, Bucit menjadikan paku sebagai suatu tumbuhan patangan untuk dimakan. Mangun Jaya, berasal dari nama seseorang pimpinan yang merintis di buatnya dusun ini. Namanya adalah si Mangun, sedangkan jaya berarti sukses atau kejayaan. Sida Kersa, diambil dari penggunaan tempat ini pada zaman dahulu sebagai tempat orang penghukuman. Dalam bahasa kayuagung, orang hukuman disebut Dersa. Kata ini selanjutnya di pandang sebagai kata dasar yang setelah melalui penuturan dari masa ke masa menjadi Sida Kersa. Jua-Jua di ambil dari nama ikan Juwa-juwa yaitu semacam ikan ikan seluang. Karena mengikuti penuturan lama kelamaan kata juwa-juwa berubah menjadi Jua-Jua. Kayuagung, disebut demikian sebagaimana telah disinggung terdahulu ialah karena ditengah-tengah dusun ini terdapat sebatang kayu yang sangat besar. Sekarang kayu itu sudah tidak ada lagi. Perigi, dinamakan Perigi karena pada waktu mendirikannya didusun ini ada sebuah kolam atau Perigi. Lagi pula nama ini merupakan pindahan dari nama dusun di Pematang Sidahutang. Selanjutnya Kotaraya, dusun ini merupakan pindahan dari dusun yang pada masa sebelum bencana banjir besar, sangat ramai. Sedangkan kedaton disebut demikian karena didirikan di atas daratan yang dahulu bernama Talang kedaton. Sedangkan Celikah dan dusun Muara Burnai memperoleh nama demikian lokasi dusun ini terletak pada muara sungai Burnai anak sungai Lempuing. Demikian pula halnya dengan Tanjung sari yang memperoleh namanya lantaran berada pada Tanjungan sungai. Dusun tanjungsari sangat mudah terlihat dari arah hulu maupun hilir sungai sehingga tempat ini menjadi sangat strategis untuk melakukan berbagai kegiatan sosial-budaya. Lubuk Seberuk memperoleh nama demikian karena di tempat itu terdapat suatu lubuk yang banyak berisi ikan seberuk, sedangkan Rantau Durian dahulu merupakan suatu tempat berkebun durian. Sungai Belida mengambil nama sungai yang melintas di dusun itu, sedangkan dusun Secupak dinamakan Secupak karena terletak ditepian sebuah tempat yang bernama Tembaku Secupak. Nama Cahaya Bumi berasal dari rasa optimisme masyarakat pada awal tempat itu dibangun menjadi suatu perkampungan. Penduduk ditempat ini berasal dari dusun Belitang Komering Ilir Ulu. Mereka datang kesini maksud dengan mencari penghidupan yang lebih baik, dan merasakan bahwa di dusun ini mereka memang memperoleh perbaikan hidup yang lebih sejahtera. Oleh karenanya mereka menamakan tempat yang baru ini dengan Cahya Bumi yaitu daerah yang memberikan sinar atau harapan. Di antara sembilan belas dusun yang disebutkan tadi, hanya dusun kayuagung yang di huni oleh keturunan dari Skala Berak, sedangkan dusun lain oleh keturunan Abung Bungamayang. Selanjunya kayuagung pernah memiliki peranan yang sangat penting sebagai “ibu kota)” onder-efdeeling Komering Ilir, disamping Tanjung raja sebagai ibu kota onder-afdeeing Ogan ilir. Dewasa ini, kayuagung merupakan ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir. Posted in: WISATA DAN BUDAYA 0 komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link Share Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More Videos Tags Blog Archives Copyright © 2011 Long Story "iman" LSI | Powered by Blogger Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | fantastic sams coupons

suku kayu agung--marga kayu agung keturunan suku sungkai bunga mayang .sungkai bunga mayang adalah sub suku dari suku lampung sbg etnis utama

// you're reading... Uncategorized Marga Kayuagung Posted by hollywoodcity ⋅ May 27, 2011 ⋅ Leave a Comment Oleh: Faisol M. Nur Suku Kayuagung terdapat di bekas Marga Kayuagung dan berasal dari Abung Bunga Mayang. Abung Bunga Mayang adalah suatu suku yang terdapat di Lampung, bernama Siwomego dalam wilayah Wai Kunang. Suku Bunga Mayang mula-mula menempati daerah di sekitar Sungai Hitam Lempuing, dengan leluhurnya bernama Mekodum Muhtaralam. Sedangkan keturunan yang berasal dari Skala Berak mula-mula bertempat tinggal di Batuhampar Kijang poyang yang bernama Raja Jungut. Pada awalnya, orang Abung tinggal di Wai Kuang dengan maksud untuk mencari tempat tinggal di Komering, akan tetapi lantaran mereka terdesak dalam suatu peperangan, maka mengundurkan diri memasuki sungai Macak, keluar ke sungai Lempuing. Di daerah inilah kemudian orang Abung menetap. Karena beberapa alas an, mereka melakukan migrasi sampai ke tempat yang pada masa kasunanan Palembang dikenal sebagai wilayah Morge Siwe atau Sembilan Marga. Pada masa keratin Palembang belum dikuasai Belanda. Dusun-dusun di Kayuagung dipersatukan dan diberi nama Marga Kayuagung dan meliputi daerah-daerah yang sekarang berada di luar Kayuagung. Ketika itu, sebagaimana keadaan di Sumatera Selatan pada umumnya marga Kayuagung dipimpin oleh seorang Pasirah. Sebelum marga dihapuskan pada tahun 1983, marga Kayuagung mencakupi tiga marga yaitu Marga Kayuagung, Teloko, dan Pegagan Ulu Suku II. Suku Kayuagung menyebar terutama di dalam lingkungan kecamatan Kayuagung. Bahasanya terdiri dari dua dialek yaitu dialek Kayuagung dan dialek Ogan. Mata pencaharian utama masyarakat adalah pertanian, perdagangan dan membuat kerajinan gerabah dari tanah liat. Garis keturunan ditarik secara bilateral. Susunan masyarakatnya banyak dipengaruhi oleh adapt Simbur Cahaya. Sebagian besar penduduknya menganut Agama Islam. Share this: Twitter Facebook

great lampung:Budaya Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir

arrybob Kamis, 07 Januari 2010 Budaya Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir BUDAYA Last Updated Wednesday, 07 October 2009 22:00 Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki keanekaragaman budaya, bahasa dan adat istiadat. Sejumlah kesenian, museum purbakala (muskala), dan sejarah nilai budaya (jarahnitra) masih dapat ditemukan hingga saat ini. Sehingga diperlukan perhatian serius bersama dalam pemeliharaan dan pembinaannya. Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir, sejauh ini berusaha membina dan melestarikan kebudayaan yang ada. Melalui berbagai even yang diselenggarakan, aspek kebudayaannya senantiasa diangkat dan ditonjolkan. Bahkan salah satunya melalui pembuatan video compact disc, yang nantinya dapat memberikan gambaran kepada masyarakat luas atas kebudayaan dan kebiasaan positif yang dilakukan masyarakat. Tradisi sarah di Kayuagung misalnya, dimana pasangan suami istri minimal pada tahun pertama, baik yang sudah punya momongan (anak) atau belum, diwajibkan untuk bersilaturrahim ke seluruh anak famili dari perempuan, sembari membawa rentengan berisi berbagai jenis makanan. Sementara memasuki bulan puasa (Ramadhan), pasangan suami istri ini biasanya memberikan antar-antaran kepada keluarga perempuan, yang terdiri sembilan BUDAYA Last Updated Wednesday, 07 October 2009 22:00 bahan pokok. Lalu, budaya Midang Morge Siwe (midang= keliling, morge siwe= sembilan marga), dimana pasangan muda mudi akan mengenakan pakaian adat Kayuagung, sebagai wujud pelestarian adat dan budaya. Budaya ini pada awalnya merupakan syarat perkawinan Mabang Handak, yakni adat beradat dimana tahap ini telah dapat diakui dan disepakati melalui petunjuk oban-oban sewaktu memutuskan “rasan jadi” yang telah dilakukan sebelumnya. Guna melestarikan adat dan budaya, masyarakat diberi kesempatan untuk menyelenggarakan adat dan budayan ya. Sejumlah data budaya dan adat istiadat yang ada dapat ditemukan di beberapa kecamatan, yakni: Kecamatan Kayuagung Kesenian : Tari penguton, incang-incang, tari sambung ayam, tari cang-cang, tari konoi mibor, tari cindo, tari perempuan kurungan, tari benang setungkal, dan tari gurdan. Museum Purbakala : Rumah bari, makam Ratu Jimat, makam Puyang Buncit, makam Seriang Kuning, monumen Perjuangan, makam pahlawan, dan makam tokoh perjuangan. Sejarah Nilai Budaya : Midang Morge Siwe, Mengarak Haji, Perhau Jukung, Legenda Negeri Silap, Legenda Putri Rambut Putih, Legenda Bulu Cawang, Gerabah Adat Perkawinan, Mabak Handuk dan Bidar. Suku : Kayuagung dan Pegagan. BUDAYA Last Updated Wednesday, 07 October 2009 22:00 Kecamatan Tanjung Lubuk dan Teluk Gelam Kesenian : Tari Ngantak dan Tari Gopung Museum dan Purbakala : Makam Syeh, makam rumah seratus tiang, rumah adat Pulau Gemantung, masjid tua, rumah mantan Pangeran Benkulah Pulau Gemantung. Sejarah Nilai Budaya : Qur'an tua (berumur diatas seratus tahun), Beduk tua (diatas seratus tahun), Adat Nyucuk. Suku : Bengkulah, Ogan, dan suku Komering Kecamatan Pedamaran dan Pedamaran Timur Kesenian : Tanjidor Sejarah Nilai Budaya : Rumah rakit, Legenda Siberanak dan Sembilan Muyang, dan anyaman tikar purun. Suku : Penesak BUDAYA Last Updated Wednesday, 07 October 2009 22:00 Kecamatan Pampangan dan Pangkalan Lampam Museum dan Purbakala : Batu Pengantin, batu lesung, batu gajah, dan bukit batu Sejarah Nilai Budaya : Legenda bukit batu, pohon jerukung Suku : Pegagan Kecamatan Lempuing dan Lempuing Jaya Kesenian : Reog, Ludruk dan Sintren Sejarah Nilai Budaya : Legenda Saman Lempuing Suku : Ogan, Komering, dan Jawa BUDAYA Last Updated Wednesday, 07 October 2009 22:00 Kecamatan Mesuji, Mesuji Makmur dan Mesuji Raya Kesenian : Wayang Kulit Suku : Ogan, Komering, Jawa dan sunda Kecamatan Tulung Selapan Kesenian : Batanghari Sembilan dan Gamelan Museum dan Purbakala : Makam Panglima Batu Api, Pemangku Adat Selapan Sejarah Nilai Budaya : Masjid Awaliyah, Masjid Taqwa, Legenda Panglima Batu Api dan Legenda Puyang atung Bungsu Suku : Tulung Selapan/anak Mate Idop, Minang, Jawa, dan Bugis Kecamatan Jejawi Museum dan Purbakala : Monumen perjuangan batas pemunduran BUDAYA Last Updated Wednesday, 07 October 2009 22:00 Kecamatan Air Sugihan Suku : Ogan, Komering, Jawa, Sunda, dan Bali Diposkan oleh aribob di 22:10 Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Lencana Facebook Ari Selalu Sial Buat Lencana Anda Powered By Blogger Teman - Teman Teman - Teman Lagi Atraksi Pengikut Kumpulan - Kumpulan Arry Bob ▼ 10 (2) ▼ Jan 2010 (2) ► Jan 17 (1) ▼ Jan 07 (1) Budaya Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir Mengenai Saya Foto Saya aribob Bila seseorang sedang jatuh cinta terkadang akan membutakan dirinya untuk memiliki pasangan idamannya. Tetapi terkadang hal itu tidak berlaku karena ada hal yang harus dipertimbangkan untuk memiliki pasangan idaman anda. Ada beberapa arti tentang cinta yang menyatakan bahwa apakah itu cinta yang sesungguhnya atau cinta itu secara nafsu belaka. Lihat profil lengkapku Amazon MP3 Clips

marga kayu agung dan suku komering

KAYUAGUNG KLIK JUDUL - Upacara Adat Turgi/Nurgi (Munggah). - Upacara Adat Mulah - Upacara Adat Midang - Upacara adat ngantat pekurangan. - Upacara adat pati sapi. - Upacara adat oban sow-sow midang. - Nyuak dan ngulom (mengundang). - Ngebengiyankon (minta bantuan tetangga). - Upacara adat mendirikan tarub/bangsal - Upacara Adat Ningkuk - Kilu Wali Nikah - Sorah Gawi Pada Proatin. - Upacara dan Adat Perkawinan TENTANG KAYUAGUNG Kayuagung adalah kabupaten yang merupakan ibu kota kabupaten Ogan Komering Ilir sumatera selatan, Indonesia. Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan daerah tingkat II di Sumatera Selatan yang luasnya sekitar 21.469,90 kilometer persegi yang secara geografis terletak antara 104 20′-160′ derajat Bujur Timur dan 4o 30′-4o 15 derajat Lintang Selatan. Ibukotanya Kayuagung, sekitar 66 km di selatan Palembang. Berpenduduk sebanyak 972.000 lebih yang sebagian besar beragama Islam. Topografi daerah ini didominasi dataran rendah dengan rawa-rawa yang luas, terutama di kawasan Timur yang berbatas dengan selat Bangka dan Laut Jawa. Dataran tinggi dan perbukitan sulit dijumpai di daerah ini. Dataran rendah sebagian masih berhutan lebat dan padang alang-alang, disamping terdapat perkebunan karet, kelapa sawit, buah-buahan, tebu, dan lain sebagainya. Pabrik gula di Sumatera Selatan yang mensuplai kebutuhan gula untuk daerah ini.Mata pencaharian penduduknya umumnya bertani, disamping sebagai pengrajin pada industri kecil dan pertukangan. Kayuagung cukup terkenal dengan kerajinan tanah liat yang memproduksi alat-alat masak, dapur, dsb. Industri kerajinan antara lain kerajinan keramik yang berlokasi di Payakabung, tenu kain tanjung, kerajinan kuningan, emas dan alumunium dan lain-lain. Ogan Komering Ilir dikenal sebagai daerah pengahasil buah-buahan dan ikan di Sumatera Selatan. Letak Geografis Secara geografis wilayah Ogan Komerng Ilir terletak antara 104°20’ – 160’ Bujur Timur dan 4°30’ – 4°15’ Lintang Selatan. Sebelah utara : Kabupaten ogan ilir dengan kota palembang Sebelah timur : Selat bangka dan laut jawa Sebelah selatan : Kabupaten ogan komering ulu dan propinsi lampung Sebelah barat : Kabupaten muara enim Sejak tahun 2004, wilayah administratif Kabupaten Ogan Komering Ilir yang semula terdiri 12 kecamatan telah mengalami pemekaran, dan sampai dengan tahun 2005 wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir dibagi menjadi 18 Kecamatan yang terdiri dari 271 desa dan 11 kelurahan. Iklim dan Curah Hujan Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan daerah yang beriklim tropis, musim kemarau umumnya berkisar antara bulan Mei sampai dengan bulan Oktober setiap tahunnya. Sedangkan musim penghujan berkisar antara bulan November sampai dengan bulan April, penyimpangan musim biasanya berlangsung 5 (lima) tahun sekali berupa musim kemarau yang lebih panjang daripada musim penghujan dengan rata-rata curah hujan 1.096 mm pertahun dan rata-rata hari hujan 66 hari pertahun. Topografi Wiilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki ketinggian rata-rata 10 (sepuluh)meter dari permukaan air laut terdapat hamparan dataran rendah yang sebagian besar daerah rawa yang membentang dari utara sampai selatan yaitu Tanjung Lubuk dengan ketinggian 6 (enam) meter dari permukaan laut selain itu di Kabupaten Ogan Komering Ilir mengalir sungai yang berfungsi yang sebagai jalur transportasi air di Kabupaten Ogan Komering Ilir hanya terdapat 1 (satu) bukit, yakni Bukit Gajah di Kecamatan Tulung Selapan. Daerah pegunungan hampir tidak ada, hanya terdapat daratan sempit dan daerah yang berbukit di kecamtan Pampangan Flora dan Fauna Flora dan Fauna yang terdapat didaerah ini berupa tanaman dan binatang tropis. Tanaman hutan yang ada antara lain : Meranti, Merawan, Terentarang, Gelam, Pelawan dan Petanang. Tanaman perkebunan yang terkenal adalah karet, kelapa sawit dan jambu mente, disamping itu terdapat buah-buahan seperti Duku, Durian, Rambutan, Nangka, Jeruk, Semangka, Pisang dan Pepaya.tanaman pangan yang terdapat didaerah ini adalah Padi, Palawija, Singkong serta sayur-sayuran. Adat Istiadat Kabupaten Ogan Komering Ilir terbagi atas beberapa suku yang berbeda adapt istiadatnya. Secara garis besar terbagi atas : ☺Suku Komering, meliputi berbagai daerah hulu sungai komering seperti Kecamatan Tanjung Lubuk dan Kecamatan Kota Kayuagung. ☺Suku Penesak, meliputi Kecamatan Pedamaran ☺Suku Jawa sebagian suku jawa dahulunya transmigran yang telah puluhan tahun menetap di Kabupaten Ogan Komering Ilir sebagian besar mereka berada di kecamatan lempuing, mesuji, pematang panggang, Air Sugihan, dan Cengal. ☺Suku Melayu sebagaian suku ini terdapat di Kecamatan Sirah Pulau Padang, Jejawi, Pampangan dan Tulung Selapan. Penduduk, Agama dan Sosiokultural Berdasarkan hasil sensus tahun 2004 Kabupaten Ogan Komering Ilir berpenduduk sebanyak 656.828 Jiwa dengan luas wilayah19.023,50 Ha yang tersebar di seluruh kecamatan Kabupaten OKI. Apabila dibandingkan dengan luas wilayah, maka kepadatan penduduk tertinggi di Kecamatan Kota Kayuagung sebesar 372 jiwa/Km² dan kepadatan penduduk terendah terdapat dikecamatan Tulung Selapan sebesar 9 jiwa / Km². Mayoritas penduduk memeluk agama islam yang berpengaruh pula terhadap adat istiadat, budaya dan kehidupan sehari-hari. Hari-hari besar islam secara umum dirayakan dengan khitmat, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Maulud Isra’ Mi’rad, Nuzul Qur’an dan lain sebagainya. Mesjid dan Mushollah hampir terdapat di setiap pelosok. Kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Ogan Komering ilir cukup Harmonis. Di daerah ini sifat kegotong-royongan dalam masyarakat tidak membedakan agama, suku ataupun status sosial. Hubungan sosial lebih didasari rasa, kebangsaan, sedang tata cara dalam pergaulan sehari-hari lebih dipengaruhi adat istiadat, seperti dalam bersopan santun, berbicara dan lain sebagainya. Secara umum Masyarakat diKabupaten Ogan Komering Ilir bersifat ramah terhadap tamu atau pendatang. Mereka juga sudah menyerap dan beradaptasi dengan modernisasi dan umumnya bersikap terbuka untuk hal-hal yang positif serta mau menerima pembaharuan terutama di bidang pembangunan. Pariwisata Sektor Pariwisata merupakan Sektor Unggulan di Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan yang kaya akan Potensi Alam Budaya untuk dikembangkan menjadi Objek Wisata. Dalam pengembangannya, objek wisata di Kabupaten Ogan Komering Ilir mengalami kemajuan yang berarti seiring upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir. Objek Wisata di Kabupaten Ogan Komering Ilir yaitu Objek Wisata Alam, Objek dan Daya Tarik Wisata Budaya dan Objek dan Daya Tarik Wisata Minat Khusus. OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA POTENSI WISATA ALAM Yang ada di Kab.OKI : 1. Danau Teluk Gelam di Kecamatan Tanjung Lubuk 2. Pulau Maspari di Kecamatan Tulung Selapan 3. Lebak Air Itam dan Danau Teluk Rasau di Kecamatan Pedamaran 4. Lebak Deling Pangkalan Lampam di Pangkalan Lampam 5. Hutan Suaka Sebokor, Hutan Mangrove di Kecamatan Tulung Selapan 6. Sungai Komering di Kecamatan Kota Kayuagung 7. Lebak Besar Teloko di Kecamatan Kota Kayuagung 8. Pantai Sungai Lumpur di Kecamatan Cengal 9. Kuala Sungai Pasir di kecamatan Tulung Selapan Objek Wisata di Kabupaten Ogan Komering Ilir yang menjadi Unggulan. Banyak hal yang menjadi Daya Tarik di Danau Teluk Gelam, yaitu berlayar menelusuri Danau Danau dengan Kapal Pesiar. Jet Sky, Dayung dan juga tersedia Sarana Permainan Anak. Kelengkapan Akomodasi di Objek Wisata ini antara lain Hotel Kembar berbintang Dua dan Home Stay. DAFTAR OBJEK DAYA TARIK WISATA ALAM OKI 2009 NO NAMAODTW ALAM DAYA TARIK LOKASI 1 Danau Teluk Gelam Panorama Alam, Rekreasi/olh raga air Teluk Gelam 2 Sungai Komering Sungai Yang Indah,Serta Bangunan Kota Lama Kayuagung Disekitarnya (Riverfront Kota Lama Kayuagung) Kota Kayuagung 3 Pulau Mangrove Panorama Hutan Mangrove Pantai Timur Cengal 4 Pulau Maspari Pulau Kecil, Pemukiman Nelayan Tulung Selapan 5 Lebak Besar Teloko Rawa Rawa Lebak Di Tengah Kota Kayuagung 6 Danau Teluk Rasau Rawa Rawa Lebak Didalam Pedamaran 7 Kuala Lebung Itam Muara Sungai, Pemukiman Nelayan Tulung Selapan 8 Kuala Sungai Sibur Muara Sungai, Pemukiman Nelayan Tulung Selapan 9 Kuala Sungai Pasir Muara Sungai, Pemukiman Nelayan Tulung Selapan 10 Pantai Sungai Lumpur Muara Sungai, Pemukiman Nelayan Cengal DAFTAR NAMA OBJEK DAYA TARIK WISATA BUDAYA OKI 2009 NO NAMA ODTW BUDAYA DAYA TARIK LOKASI 1 Rumah Seratus Tiang Keunikan rumah adat memiliki 100 (seratus) tiang dan mempunayai alang sepanjang 30 (tiga puluh) meter tanpa sambung. Didalamnya terdapat peninggalan benda-benda tradisional. Tanjung Lubuk 2 Negeri Silop (Negeri Hilang) Keindahan negeri yang fatamorgana (merupakan negeri siluman menurut cerita warga sekitar). Kayuagung 3 Makam Seriang Kuning Merupakan Makam Leluhur Bagi Masyarakat Setempat Kayuagung 4 Makam Ratu Jimat dan Puyang Bucit Merupakan Makam Leluhur Bagi Masyarakat Setempat Kayuagung 5 Rumah Adat Kayuagung Keunikan rumah adapt yang berusia ± 200 tahun, banyak memiliki nilai sejarah dan nilai tradisional didalamnya. Kayuagung 6 Bukit Batu Terdapat sebuah Pohon Jerungkung (pohon aren tempat terjadinya perkelahian antara sipahit lidah dan si mata empat), terdapat Batu Gajah, Batu Pengantin, Batu Lesung, merupakan daerah keramat bagi warga sekitar. Pampangan DAFTAR NAMA OBJEK DAYA TARIK WISATA MINAT KHUSUS 2009 NO NAMA ODTW MINAT KHUSUS DAYA TARIK LOKASI 1 Danau Teluk Gelam Memiliki Landscape yang baik, dapat menikmati olah raga air, rally wisata, dapat menyaksikan lomba seni suara burung perkutut, Extreme Adventure Off Road, camping, Hiking, Playground untuk anak-anak serta dapat menyaksikan event-event kesenian dan kebudayaan di obyek wisata ini. (Wisata Adventure, Wisata Sport dan Wisata Air). Teluk Gelam DAFTAR NAMA PEJABAT DAERAH OKI TAHUN 2009 NO NAMA JABATAN GOLONGAN 1 DAFTAR PEJABAT DAERAH 1.Ir.H. Ishak Mekki MM 2.H. Engga Dewata Zaenal S.Sos 3.Drs.H.M. Amin Jalalen 4.H.Nehru BHM.Saleh, S.Sos 5.Drs. Ali Amer 6.Drs. Ismail Faisol, M.Si 7.Ir. Fathony Syarif, MM Bupati OKI Wakil Bupati OKI Sekda OKI Asisten I Asisten II Asisten III Asisten IV IV/c IV/a IV/c IV/b IV/b 2 BAGIAN PEMERINTAHAN Drs.MHD. Dahlan, MM KABAG IV/a 3 BAGIAN HUKUM Drs. Muhammad Ridwan, SH KABAG IV/a 4 BAGIAN PERTAHANAN Hendri, SH, MM KABAG IV/a 5 BAGIAN EKONOMI Drs. Syamsi Saleh KABAG IV/b 6 BAGIAN ADMINISTRASI PEMBANGUNAN Ir. Muhammad Hafiz, MM KABAG IV/a 7 BAGIAN KEUANGAN Daud, S.IP, M.Si KABAG III/d 8 BAGIAN UMUM H. Fachrudin Tauhid KABAG III/c 9 BAGIAN ORGANISASI Fahrul Rozi, S.Sos, MM KABAG IV/a 10 BAGIAN KESEJAHTERAHAN RAKYAT Sumijarno, S.Sos, MM KABAG III/d 11 BAGIAN PERLENGKAPAN Ir. Fauzi H.Karim KABAG IV/a 12 BAGIAN HUMAS & PROTOKOL Drs. Edward Candra KABAG III/c Suka Be the first to like this. 3 Komentar Add your own 1. dian | Mei 26, 2010 pada 10:54 pm :0) bermanfaat ni buat cari tugas buat admin salam kenal y …………. :) n saran ny tlg d pasang poto kayuagung nya Balas 2. Amar | Oktober 12, 2010 pada 2:01 pm Thx infonya .. Berguna banget ni cz saya orang baru dikayuagung. Balas 3. Triansyah | Desember 16, 2011 pada 10:48 am bermanfaat sekali untuk menunjukan nama harum Kabupaten Ogan komering Ilir, Ibu kota kayuagung…. terutama kepada teman-teman saya, yang tidak mengetahui nama tempat asal saya di Lebung batang Kec. Pangkalan lampam. Balas Tinggalkan Balasan Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed Tema: Blix by Sebastian Schmieg . Blog pada WordPress.com. Skip to toolbar WordPress.com Current blog avatar Ciknah Blog Follow Like joni New Post Log Out

kelompok melayu tua( proto malayan)

Senin, 27 Juni 2011 Kelompok Proto Malayan Proto Malayan : 1. Nagas (India) 2. Manipur (India) 3. Mizoram (India) 4. Nias 5. Devayan (Simalur) 6. Sigulai (Simalur) 7. Lekon (Simalur) 8. Haloban (pulau Banyak) 9. Mentawai 10. Enggano 11. Gayo 12. Alas 13. Singkil 14. Kluet 15. Karo 16. Pakpak 17. Dairi 18. Toba 19. Mandailing 20. Angkola 21. Simalungun 22. Suku Anak Dalam 23. Suku Anak Laut 24. Suku Sawang 25. Suku Sakai 26. Suku Utan 27. Suku Akit 28. Suku Ranau 29. Suku Komering 30. Suku Lampung 31. Suku Dayak (450 etnis) 32. Suku Bajau 32. Suku Sasak 33. Suku Toraja 34. Suku Wajo 35. Merina (Andaman dan Nicobar) sumber: diambil dari berbagai sumber You might also like: Suku Dayak Punan Kelay Suku Ampana, Sulawesi Suku San Diu Suku La Ha LinkWithin tag: Proto Malayan Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Reaksi: 1 komentar: GREAT LAMPUNG26 Desember 2012 02:47 Suku/etnis Lampung(Suku Ranau,Suku Komering,suku abung,suku krui,suku sungkai,dsb) suku batak(suku karo,toba,simalungun,pakpak,mendailing) keterangan:suku yang di dalam kurung adalah sub suku dari etnis utama BalasHapus Tambahkan komentar

Suku Ranau--marga ranau--part of ethnic lampung

Senin, 27 Juni 2011 Suku Ranau suku Ranau penjaga danau Ranau (melayuonline.com) Suku Ranau adalah suatu komunitas suku yang bermukim di kawasan tepi danau Ranau kabupaten Ogan Komering Ulu provinsi Sumatra Selatan. Suku Ranau ini termasuk ke dalam rumpun Proto Malayan yang bermigrasi ke daratan sumatra pada kisaran 3000 - 2500 tahun SM (BC). 'Daerah danau Ranau dikenal dengan nama Sakala Brak (sakala=sagala ; brak=luas). Nenek moyang orang-orang di Komering diperkirakan berasal dari Tiongkok Selatan (Yunan), pada ribuan tahun SM, turun ke laut melalui sungai-sungai besar di China yang bermuara di selatan. Akhirnya mereka tersebar di beberapa wilayah Sumatra Selatan, Lampung dan Sumatra Utara. Sehingga tidak mengherankan bila terdapat suatu persamaan di dalam gerak dan tingkah laku antara orang Komering, Pasemah, Lampung dan Batak. Bahkan ada faham yang dibenarkan dalam kehidupan masyarakat itu bahwa mereka berasal dari tempat dan keturunan yang sama, hanya saja karakter dan budaya semakin terpisah akibat telah terpisah oleh jarak dan waktu yang lama. Dalam perjalanan migrasi Proto Malayan ke Asia Tenggara ini disebutkan bahwa suku Ranau (suku yang menempati pesisir danau Ranau), telah memasuki dan menetap di tepian danau Ranau kira-kira 2000 tahun sebelum masehi. Suku Ranau bersama suku Toraja, Batak, Bontoc, Tayal, Wajo dan lain-lain melakukan perjalanan menyeberangi lautan sampai ke wilayah sumatra dan pulau-pulau lain di Asia Tenggara. danau Ranau (saliwanovanadiputra.blogspot.com) Menurut Ketua Pemangku Adat Ranau Ruslan Tamimi, penghuni pertama kawasan danau Ranau adalah suku Abung. Mereka hidup menjadi penangkap ikan, bertani atau berladang. Dari peninggalan sejarah di kawasan danau Ranau berupa lesung batu dari zaman Megalitik menandakan bahwa suku Abung termasuk rumpun proto-malayan. Pada abad ke-15 kawasan danau Ranau didatangi empat komunitas suku pendatang yang menduduki kawasan danau Ranau. Satu kelompok berasal dari Pagaruyung yang dipimpin Depati Alam Padang menempati sebelah barat danau Ranau. Tiga kelompok lagi berasal dari Sakala Brak Lampung, yang dipimpin Raja Singa Juhku menetap di sebelah timur, kelompok yang dipimpin Puyang Empu Sejadi Helau di sebelah utara, dan kelompok terakhir dipimpin Pangeran Liang Batu serta Pahlawan Sawangan menempati sebelah timur. Keempat kelompok itu kemudian saling berbaur dan kemudian semua para pendatang inilah yang akhirnya menjadi disebut sebagai suku Ranau sekarang. Sedangkan suku Abung sebagai penghuni pertama danau Ranau yang suka mengisolasi diri. Merasa terusik dan berusaha mempertahankan wilayahnya. Tetapi karena kalah jumlah dan persenjataan dari yang dimiliki kaum pendatang lebih maju membuat suku Abung semakin terdesak dan terpaksa hijrah ke wilayah Lampung Tengah'. Sering terjadi perdebatan diantara peneliti, siapakah sebenarnya yang benar-benar suku Ranau itu. Suku Abung atau keempat suku pendatang yang hingga kini menempati kawasan danau Ranau. Istilah "suku Ranau" bisa menjadi beberapa makna, bisa berarti "orang yang tinggal di pesisir danau ranau" atau "orang yang berasal dari danau ranau" atau "orang yang pertama menjadi penghuni danau ranau". baca juga: suku Abung sumber: word-dialect.blogspot.com lintasberita.com wisatadanbudaya.blogspot.com lampungpost.com wikipedia dan beberapa sumber lain You might also like: Suku Abung Suku Komering Suku Anak Dalam Suku Ogan LinkWithin tag: Austronesian, Sumatra, Sumatra Selatan Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Reaksi: 11 komentar: erik ranau4 Juni 2012 22:00 ranau adalah bagian dari lampung Balas erik ranau4 Juni 2012 22:01 ranau adalah bagian dari lampung Balas erik ranau4 Juni 2012 22:03 ranau adalah bagian dari lampung Balas erik ranau4 Juni 2012 22:03 ranau adalah bagian dari lampung Balas Jelma ranau10 Juni 2012 23:27 Ranau adalah daerah leluhur suku lampung pesisir,Abung & Komering. pernah menjadi pusat peradabab kerajaan Ranau. daerah Ranau pernah dikuasai suku serumpun yaitu suku Abung(keturunan dari suku Ranau juga tapi sudah membentuk komunitas sendiri) sehingga suku Ranau hijrah ke sekitar gunung pesagi mendirikan kerajaan Sekala bera', namun pada akhirnya daerah Ranau dapat dikuasai lagi oleh kerajaan Sekala bera' namun tidak dijadikan sebagai pusat kerajaan lagi. Balas Balasan hrs6 Desember 2012 23:58 trims om, atas masukannya, salam Balas Anonim6 Desember 2012 19:20 kata siapa ranau dari lampung??? yg benar itu lampung itu dari ranau. saya orang ranau tidak pernah ngaku klo orang lampung maupun komering. karena ranau lebih tua dari kedua suku tersebut. oh iya, saya berasal dari desa kota batu warkuk ranau selatan oku selatan sumatera selatan. 80% wilayah danau ranau itu wilayah sumsel, cuma 20% wilayah lampung, yaitu cuma desa lombok. salam Balas Balasan hrs7 Desember 2012 00:04 trims om anonim, atas masukannya, cerita ranau memang banyak terjadi teori yang berbeda-beda, sehingga membuat bingung kebanyakan orang. menurut teori migrasi protomalayan, memang suku ranau termasuk salah satu suku tertua di indonesia, bersama orang toraja, dayak, batak, wajo (bajo) dan lain-lain. salam Balas jhony yan24 Desember 2012 23:36 he he he he suku ranau,artikel yang menarik sangat menarik dan sangat layak di apresiasi dan di hormati.mari sama sama kita kaji sejarah secara arif.suku ranau jika sedikit saja kita mau mengkaji secara jernih dengan sumber2 yang valid sudah jelas dan sangat terang benderang adalah lampung pesisir atau peminggir.sama hal nya dengan jelma daya,komering,karena apa sebab dahulunya kita(saya dari krui,di proto malayan.blogspot.com disebut suku krui)krui-komering-ranau masukdalam kedatuan pemanggian.kita satu rumpun dan satu etnis yakni lampungpesisir .jangan karena pengkotakan provinsi kini kita abaikan persatuan dulu. untuk lebih jelas dan menambah referensi kunjungi:greatlampung.blogspot.com--jhonyyan.blogspot.com--ulunlampung.blogspot.com dan banyak lagi lainnya.kuncinya galang persatuan dengan memupuk persamaan dan kita jadikan sedikit perbedaan nya sebgai khasanah memperkaya kulturalisme etnish kita.salam kemuarian jak meranai krui rantauan di palembang Balas jhony yan24 Desember 2012 23:39 atau jumpai saya secara langsung akan saya bagi ada sktr 8 GB data terkait enis kita.baik secara umum maupun secara khusus tentang ranau,komering,krui,abung,merpas dan cikoneng.juga kan saya rekomendasikan situs2 terkit yg sangat banyak melipah di internet Balas jhony yan24 Desember 2012 23:54 jika hendak di paksakan juga maka yang layak disebut sebagai suku ranau adalah suku abung,pemilik dan penghuni pertama di kawasan ranau yang kemudian berpindah dari ranau karena alasan tertentu yg jadi pertimbangan kepindahan ts.sedangkan suku ranau yang dikenal sekarang adalah gabungan pendatang berikutnya yang sampai kini bertahan di ranau shg di identifikasi sebagai sukunya.tapi sebenarnya ranau adalah marga bkn etnis.tapi jika dipaksakan juga maka ranau adalah sub suku dari etnis utama yankni etnis lampung.kita harus cermati juga mengapa suku abung berpindah adakah benar karena kalah perang,atau karena terdeak karena kalah saingan dlm ekonomi?.kita harus aif menyikapi ini.karena kita tau etnis kita baik abung,krui,komering,juga ranau adalah suku yang sangat menjunjung harga diri dan mencintai tanah air tanoh marga kekuasaannya.tentu perang besar takkan terelakkan bahan mungkin kan mengncam kepunahan keduanya atau sebagian.tapi knapa mereka(suku abung)memilih pergi bkn krn kalah tapi karena mengalah sebab tidk rela terjadi pertumpahan darah sesama satu rumpun suku sbb kedua belah pihak mengerti dan memahami persatuan mereka yakni satu etnis.seperti dlm pepatah kita---iwani dapok way ni mak rubok Balas